Pengertian tirkah, wasiat wajibah, ahli waris nasabiyah, ahli waris sababiyah, ashab al-furudh, ashab asabah, hajib, mahjub, perhitungan aul dan radd


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Fiqh mawaris merupakan ilmu pengetahuan tentang hukum kewarisan dalam bahasa Indonesia, yang mengatur tentang harta peninggalan orang yang sudah meninggal dunia. Harta yang ditinggalkan oleh seorang yang meninggal dunia memerlukan pengaturan tentang siapa yang akan berhak menerima harta peninggalannya, berapa jumlahnya, dan bagaimana pembagiannya.
Dalam masyarakat pastinya banyak masalah tentang peninggalan harta warisan ataupun berbagai masalah tentang harta tersebut yang menjadikan salah paham atas hak-hak ataupun pembagian serta jenis-jenis harta warisan di dalam masyarakat pada umumnya.
Dengan begitu akan perlu di bahas tentang tirkah (peninggalan harta waris) yang tentunya berbeda dengan wajibah (wasiat). Apabila di cermati, ahli waris ada dua macam yaitu ahli waris nasabiyah yaitu ahli waris yang berhubungan dengan kekluargaannya timbul karena hubungan darah, sedangkan ahli waris sababiyah yaitu hubungan kewarisan karena sebab tertentu seperti perkawinan yang sah dan yang memerdekakan hamba sahaya.
Kurangnya mengenai pengetahuan ahli waris dengan begitu perlu kita bahas dengan detai dengan masalah ahli waris ini terutama dengan masalah  tirkah, wasiat wajibah, ahli waris nasabiyah, ahli waris sababiyah, ashab al-furudh, ashab asabah, hajib, mahjubnya, perhitungan aul dan radd. Masalah pembahasn tersebut harus kita kaji lebih mendalam untuk menambah pengetahuan agar tidak salah memahami dan tentunya dengan syariat-syariat islam.




1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang perlu di bahas di makalah ini yaitu pengertiaan tirkah, wasiat wajibah, ahli waris nasabiyah, ahli waris sababiyah, ashab al-furudh, ashab asabah, hajib, mahjubnya, perhitungan aul dan radd.

1.3  Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut kami dapat menyimpulkan tujuan dari makalah ini, yaitu: memahami tentang tirkah, wasiat wajibah, ahli waris nasabiyah, ahli waris sababiyah, ashab al-furudh, ashab asabah, hajib, mahjubnya, perhitungan aul dan radd.

1.4  Manfaat
Banyak manfaat dalam makalah ini terutama dalam masalah-masalah yang di bahas dalam makalah ini. Manfaat lainnya yaitu:  melatih kreatifitas dalam menuangkan gagasan atau ide-idenya tentang suatu kajian atau topik pembahasan dari ilmu terutama masalah yang sudah dialami. Penulis juga dilatih untuk berpikir logis, sistematis, kemampuan membahasakan, kemampuan menganalisis, kritis, dan lain-lain.
Sebuah karya tulis dengan dituangkannya berupa makalah, bukan berguna bagi penulisnya saja tetapi juga sebagai bahan referensi kajian yang searah dengan masalah tersebut, dan bagi pembaca tentunya mampu menyumbangka ide yang berguna untuk membangun ilmu pengetahuannya.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tirkah
            Tirkah menurut bahasa adalah masdar berma’na maf’ul yang berarti matrukah (sesuatu yang di tinggalkan). Sedangkan tirkah menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu:
1.      Seluruh yang ditinggalkan mayyit berupa harta dan hak-hak yang tetap sama secara mutlak.
2.      Pengarang kitab al-‘adzab al-fa’idh, sesuatu yang ditinggalkan oleh mayyit, berupa harta, diyat yang diambil dari pembunuhnya, karena masuk dalam kategori harta miliknya menurut perkiraan atau berupa hak.
3.      Segala apa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal yang dibenarkan oleh syariat untuk diwarisi oleh ahli warisnya.
4.      Menurut rifa’I arif “Tirkah adalah apa-apa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia berupa harta maupun hak”
5.      Pendapat yang termasyhur dari fuqaha Hanafiyah, tirkah ialah: harta benda yang ditinggalkan simayit yang tidak mempunyai hubungan hak dengan orang lain, tirkah ini harus dikeluarkan untuk memenuhi hak biaya perawatan, hak perlunasan hutang, hak wasiat dan hak ahli waris.
Jadi, bisa kita simpulkan bahwa tirkah adalah segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal yang masuk kategori harta miliknya serta dibenarkan oleh syariat untuk diwarisi oleh ahli warisnya, baik berupa harta maupun hak.
Namun secara khusus pengertian Tirkah berbeda-beda menurut para ahli fiqh. Ahli fiqh yang bermahdzab Hanafi, terdapat tiga pendapat, yaitu:
a.       Pendapat pertama menyatakan bahwa tirkah adalah harta benda yang ditinggalkan oleh si muwarrits yang tidak mempunyai hubungan hak dengan orang lain. Jadi tirkah hanya mencakup pengertian nomor 1 dan 2 di atas. Tirkah ini nantinya harus digunakan untuk memenuhi biaya pengurusan jenazah si muwarrits sejak meninggalnya sampai dikuburkan, pelunasan utang, penunaian wasiat, dan hak ahli waris.
b.        Menurut pendapat kedua, tirkah adalah sisa harta setelah diambil biaya pengurusan jenazah dan pelunasan utang. Jadi tirkah di sini adalah harta peninggalan yang harus dibayarkan untuk melaksanakan wasiat dan yang harus diberikan kepada para ahli waris.
c.       Pendapat yang ketiga mengartikan tirkah secara mutlak, yaitu setiap harta benda yang ditinggalkan oleh si mayit. Dengan demikian, tirkah mencakup benda-benda yang bersangkutan dengan hak orang lain, biaya pengurusan jenazah, pelunasan utang, pelaksanaan wasiat, dan pembagian warisan kepada para ahli waris
Menurut madzhab Maliki, Syafii, dan Hanbali, tirkah mencakup semua yang ditinggalkan si mayit, baik berupa harta benda maupun hak-hak. Dan hak-hak ini bisa hak-hak kebendaan maupun bukan kebendaan. Hanya Imam Malik yang memasukkan hak-hak yang tidak dapat dibagi, misalnya hak menjadi wali nikah, ke dalam keumuman arti hak-hak.
Demikianlah pendapat beberapa ulama tentang pengertian tirkah (hata peninggalan). Dari harta peninggalan si mayit, menurut pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, terdapat hak-hak yang harus ditunaikan sebelum harta itu dibagi-bagi kepada para ahli waris. Hak-hak atas harta peninggalan ini harus ditunaikan dengan mengikuti urutan sebagai berikut:
a.       Pengurusan jenazah si mayit sejak meninggalnya sampai dikuburkan (tajhiz),
b.      Pelunasan utang si mayit,
c.       Penunaian (pelaksanaan) wasiat si mayit, dan
d.      Hak ahli waris.
Ini berarti bahwa pembagian harta warisan kepada para ahli waris dilaksanakan setelah diselesaikannya ketiga maacam hak, yaitu pengurusan jenazah, pelunasan utang, dan pelaksanaan wasiat.
Semua biaya untuk pengurusan jenazah didahulukan daripada pelunasan utang, pelaksanaan wasiat, dan pemberian kepada ahli waris karena pengurusan jenazah sejak meninggal sampai dikuburkan merupakan kebutuhan vital baginya sebagai ganti nafaqah dharuriyah ketika ia masih hidup. Hal ini dapat dibuktikan dari hadits berikut ini:
"Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang tengah menjalankan ihram dibanting oleh untanya (hingga meninggal). Kami ketika itu bersama-sama dengan Rasulullah SAW. Lalu Nabi SAW memerintahkan, ‘Mandikan dengan air dan daun bidara, jangan beri minyak wangi, dan jangan tutup kepalanya karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Dalam hadits ini, Rasulullah SAW tidak meneliti dan menanyakan apakah si mayit memiliki utang atau tidak, tetapi beliau langsung memerintahkan agar mayit tersebut dimandikan dan dikafani. Beliau tidak memerinci setiap peristiwa jika peristiwa itu menduduki keumuman apa yang diucapkan. Dengan demikian jelas bahwa biaya pengurusan jenazah si mayit harus diahulukan daripada pelunasan utang si mayit.
Adapun pelunasan utang didahulukan daripada pelaksanaan wasiat berdasarkan hadits berikut:
"Dari Ali bin Abi Thalib RA diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Utang (dilunasi) sebelum (melaksanakan) wasiat, dan tidak ada wasiat bagi ahli waris.’” (HR Ad-Daru Quthni)
Selanjutnya, wasiat didahulukan daripada pembagian harta kepada para ahli waris karena seandainya pembagian warisan yang didahulukan (dan tidak dibatasi jumlahnya), maka besar kemungkinan tidak ada lagi sisa harta yang harus diberikan kepada para ahli waris


2.2 Wasiat Wajibah
Wasiat adalah penghibahan benda, piutang, atau manfaat oleh seseorang kepada orang lain dengan ketentuan bahwa orang yang diberi wasiat memiliki hibah tersebut setelah kematian orang yang berwasiat.
Yang dimaksud wasiat wajibah adalah wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak bergantung kepada kemauan atau kehendak si yang meninggal dunia. Wasiat tetap harus dilakukan baik diucapkan atau tidak diucapkan baik dikehendaki maupun tidak dikehendaki oleh si yang meninggal dunia.. Jadi, pelaksanaan wasiat tersebut tidak memerlukan bukti bahwa wasiat tersebut diucapkan atau ditulis atau dikehendaki, tetapi pelaksanaannya didasarkan kepada alasan-alasan hukum yang membenarkan bahwa wasiat tersebut harus dilaksanakan.
Wasiat wajibah juga dapat diartikan sebagai suatu pemberian yang wajib kepada ahli waris atau kaum keluarga terutama cucu yang terhalang dari menerima harta warsian karena ibu atau ayah mereka meninggal sebelum kakek atau nenek mereka meninggal atau meninggal bersamaan. Ini karena berdasarkan hukum waris mereka terhalang dari mendapat bagian harta peninggalan kakek dan neneknya karena ada ahli waris paman atau bibi kepada cucu tersebut.
Ketentuan wasiat wajibah diatas merupakan hasil ijtihad para ulama dalam menafsirkan QS: Al-Baqarah :180
Wasiat wajibah ini harus memenuhi dua syarat :
1.      yang wajib menerima wasiat, bukan waris. Kalau dia berhak menerima pusaka walaupun sedikit, tidaklah wajib dibuat wasiat untuknya.
2.      orang yang meninggal, baik kakek maupun nenek belum memberikan kepada anak yang wajib dibuat wasiat, jumlah yang diwasiatkan dengan jalan yang lain, seperti hibah umpamanya.


Dalam Perspektif Fiqh : Wasiat wajibah adalah suatu wasiat yang diperuntukan kepada ahli waris atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari orang yang wafat, karena adanya suatu halangan syarat. Suparman dalam bukunya Fiqh Mawaris (Hukum Kewarisan Islam), mendefenisikan wasiat wajibah sebagai wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak bergantung kepada kemauan atau kehendak si yang meninggal dunia.
Dalam undang-undang hukum wasiat Mesir, wasiat wajibah diberikan terbatas kepada cucu pewaris yang orang tuanya telah meninggal dunia lebih dahulu dan mereka tidak mendapatkan bagian harta warisan disebabkan kedudukannya sebagai zawil arham atau terhijab oleh ahli waris lain. Para ahli hukum Islam mengemukakan bahwa wasiat adalah pemilikan yang didasarkan pada orang yang menyatakan wasiat meninggal dunia dengan jalan kebaikan tanpa menuntut imbalan atau tabarru' .
Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa pengertian ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam dikalangan madzhab Hanafi yang mengatakan wasiat adalah tindakan seseorang yang memberikan haknya kepada orang lain untuk memiliki sesuatu baik merupakan kebendaan maupun manfaat secara suka rela tanpa imbalan yang pelaksanaannya ditangguhkan sampai terjadi kematian orang yang menyatakan wasiat tersebut.
Sedangkan Al-Jaziri, menjelaskan bahwa dikalangan mazhab Syafi'i, Hanbali, dan Maliki memberi definisi wasiat secara rinci, wasiat adalah suatu transaksi yang mengharuskan orang yang menerima wasiat berhak memiliki sepertiga harta peninggalan orang yang menyatakan wasiat setelah ia meninggal dunia 




2.3 Ahli Waris Nasabiyah
Ahli waris nasabiyah  adalah ahli waris yang pertalian kekerabatannya kepada al-muwarrisdidasarkan pada hubungan darah. Secara umum dapat dikatakan bahwasanya ahli waris nasabiyah itu seluruhnya ada 21 yang terdiri dari 13 kelompok laki- laki dan 8 kelompok perempuan.
Ahli waris laki-laki didasarkan urutan kelompoknya sebagai berikut:
1.      Anak laki-laki
2.      Cucu laki-laki dari anak laki-laki sampai seterusnya kebawah yaitu cicit laki- laki buyut laki- laki dan seterusnya.
3.       Bapak.
4.       Kakek dari garis bapak.
5.      Saudara laki-laki sekandung.
6.      Saudara laki-laki seayah saja.
7.      Saudara laki-laki seibu saja.
8.      Anak laki-laki dari saudara laki- laki kandung.
9.      Anak laki-laki dari saudara seayah.
10.  Saudara laki-laki bapak  yang seibu sebapak (kandung).
11.  Saudara laki-laki bapak (dari bapak) yang sebapak saja.
12.  Anak laki-laki dari saudara laki-laki bapak (paman) yang seibu sebapai ( kandung).
13.  Anak laki-laki paman yang seayah.
Adapun Ahli waris perempuan didasarkan kelompoknya ada 8 orang yaitu:
1.      Anak perempuan.          
2.      Cucu perempuan dari anak laki-laki dan seterusnya kebawah, yaitu cicit perempuan dari cucu laki- lak, puit perempuan dari cicit laki-laki dan sererusnya.
3.       Ibu.
4.      Nenek dari ibu.
5.      Nenek dari bapak.
6.      Saudara perempuan sekandung.
7.      Saudara perempuan sebapak saja.
8.      Saudara perempuan seibu saja.
Dilihat dari arah hubungan nasab antara orang yang meninggal dunia dengan orang yang berhak memperoleh bagian harta peninggalan atau antara orang yang mewariskan dengan orang yang mewarisi, maka ahli waris nasabiyah mennjadi tiga macam yaitu: Furu’ul MayitUshulul Mayit dan Al-Hawasyiy.
a.       Furu’ul Mayit Yang dimaksud yaitu anak keturunan orang yang meninggal dunia. Hubungan nasab antara orang yang meninggal dunia dengan mereka itu adalah hubungan nasab menurut garis keturunan lurus ke bawah (ahli waris terdekat).  Ahli waris yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
1.)    Anak Laki-laki
2.)    Anak Perempuan
3.)    Cucu Laki-Laki
4.)    Cucu Perempuan dari garis laki-laki
5.)    Ushulul Mayit
b.      Yang dimaksud dengan ushulul mayit yaitu orang-orang yang menyebabkan adanya lahirnya orang-orang yang meninggal dunia. Atau dapat dikatakan pula yaitu orang-orang yang menurunkan orang yang meninggal dunia. Hubungan nasab orang yang meninggal dunia dengan mereka itu (ahli waris) hubungan nasab menurut garis keturunan lurus ke atas. Adapun yang termasuk dalam Ushulul Mayit:
1.)    Ayah
2.)     Ibu
3.)    Kakek dari garis ayah
4.)    Nenek dari garis ibu
5.)    Al-Hawasyiy
c.       Al-Hawasyiy ialah saudara, paman beserta anak mereka masing-masing. Hubungan nasab antara orang yang meninggal dunia dengan mereka itu adalah hubungan nasab ke arah menyamping. Adapun yang termasuk dalam ahli waris Al-Hawasyiy adalah:
1.)    Saudara Laki-Laki yang sekandung
2.)    Saudara Perempuan yang sekandung
3.)    Saudara Laki-Laki seayah
4.)    Saudara Perempuan yang seayah
5.)    Saudara Laki-Laki seibu
6.)    Saudara Perempuan seibu
7.)    Anak Laki-Laki dari saudara laki-laki sekandung
8.)    Anak Laki-Laki  dari saudara laki-laki yang seayah
9.)    Paman sekandung
10.)            Paman sebapak
11.)             Anak laki-laki dari paman sekandung
12.)            Anak laki-laki dari paman seayah

2.4  Ahli Waris Sababiyah
Ahli waris sababiyah adalah ahli waris yang hubungan kewarisannya timbul karena sebab-sebab tetentu, yaitu:
1.      Sebab perkawinan.
2.      Sebab memerdekakan hamba sahaya.
Sebagai ahli waris sababiyah, mereka dapat menerima bagian warisan apabila perkawinan suami isteri tersebut sah, baik menurut ketentuan hukum agama dan memiliki bukti-bukti yuridis artinya perkawinan mereka dicatat menurut hukum yang berlaku. Demikian juga memerdekakan hamba sahaya hendaknya dapat dibuktikan menurut hukum. Jadi, dalam pembagian ahli waris sababiyah yang menerima warisan adalah suami, istri, laki-laki yang memerdekakan si mayit dari perbudakan  dan perempuan yang memerdekakan si mayit dari perbudakan. Kedudukan mereka sebagai ahli waris ditetapkan oleh firman Allah QS. An-nisa’ ayat 12 :
“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.”

2.5    Ashab Furudh
Ashabul Furudh (Zawil Furudh) adalah bagian-bagian yang telah ditentukan oleh syariat Islam (al-Qur’an dan Hadits) berkenaan dengan orang yang mendapatkan harta warisan. Bagian-bagian itu adalah:
A.     Seperdua (1/2)
Para ahli warisnya adalah 5 (lima) orang, yaitu:
1.      Anak Perempuan, apabila hanya seorang diri, jika si mati tidak meninggalkan anak laki-laki (QS, 4:11)
2.    Seorang cucu perempuan dari laki-laki, jika si mati tidak meninggalkan anak atau cucu laki-laki
3.    Seorang saudara perempuan sekandung apabila seorang diri
4.    Seorang saudara perempuan, jika hanya seorang diri
5.    Suami, jika tidak ada anak atau susu (QS, 4:12)
B.     Seperempat (1/4)
Para ahli warisnya adalah 2 (dua) orang, yaitu:
1.    Suami, jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki (QS, 4:11)
2.    Istri seorang atau lebih, jika si mayit tidak meninggalkan anak atau cucu (QS, 4:12)
C.     Seperdelapan (1/8)
Para ahli warisnya adalah 1 (satu) orang, yaitu: Istri seorang atau lebih, apabila ada anak atau cucu (QS, 4:12)

D.    Sepertiga (1/3)
Para ahli warisnya adalah 2 (dua) orang, yaitu:
1.  Ibu, jika si mati tidak meninggalkan anak atau cucu dari anak laki-laki atau dua orang saudara (QS, 4:11)
2.  Dua orang atau lebih saudara seibu bagi si mati, baik laki-laki maupun perempuan (QS, 4:12)


E.     Dua pertiga (2/3)
Para ahli warinya adalah 4 (empat) orang, yaitu:
1.      Dua orang anak perempuan atau lebih, jika mereka tidak mempunyai saudara laki-laki (QS, 4:11)
2.       Dua cucu perempuan atau lebih dari anak laki-laki, jika mereka tidak ada anak perempuan atau saudara laki-laki
3.      Dua orang saudara perempuan sekandung atau lebih, jika si mati tidak meninggalkan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki atau saudara laki-laki mereka (QS, 4:176)
4.      Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih, jika tidak ada yang tersebut nomor 1, 2 dan 3 atau saudara laki-laki mereka.

F.     Seperenam (1/6)
Para ahli warisnya adalah 7 (tujuh) orang, yaitu:
1.      Ayah, jika si mati meninggalkan anak atau cucu (QS, 4:11)
2.      Ibu, jika si mati meninggalkan anak, cucu laki-laki atau saudara laki-laki/perempuan lebih dari seorang
3.      Kakek, jika si mati meninggalkan anak, cucu dan tidak meninggalkan Bapak.
4.      Nenek, jika si mati tidak ada ibu
5.      Cucu perempuan dari anak laki-laki jika bersama-sama seorang anak perempuan
6.      Saudara perempuan seayah atau lebih bila ia bersama-sama saudara perempuan sekandung
7.      Saudara seibu baik laki-laki/perempuan, jika si mati tidak meninggalkan anak, bapak atau datuk.

2.6    Ashab Asabah
Asabah adalah bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashab al-furud. Sebagai penerima bagian sisa, ahli waris ashabah terkadang menerima bagian banyak (seluruh harta warisan), terkadang menerima sedikit, tetapi terkadang tidak menerima bagian sama sekali, karena habis diambil ahli waris ashab al-furud.
Jadi , asabah adalah semua ahli waris yang tidak mempunyai bagian tetap dan tertentu baik yang di atur dalam al-qur’an maupun hadis. Mereka terdiri dari:
1.      Anak laki-laki
2.      Anak laki-lakinya anak laki-laki ( cucu laki-laki dari anak laki-laki)
3.      Saudara kandung
4.      Saudara seayah
5.      Saudara ayah sekandung
Di dalam pembagian sisa harta warisan, ahli waris yang terdekatlah yang lebih dahulumenerimanya. Konsekuensi cara pembagian ini, maka ahli waris ashabah yang peringkat kekerabatanya berada dibawahnya tidak mendapatkan bagian.Dasar pembagian ini adalah perintah Rasulullah SAW: “berikanlah bagian-bagian tertentu kepada ahli waris yang berhak, kemudian sisanya untuk ahli waris laki-lakiyang utama’’ (Muttafaq ‘alaih).
Didalam kitab Ar-Rahbiyyah, ashobah adalah setiap orang yang mendapatkan semua harta waris, yang terdiri dari kerabat daan orang yang memerdekakan budak, atau yang mendapatkan sisa setelah pembagian bagian tetap.
Para fuqoha telah menyebutkan tiga macam kedudukan ashobah, yaitu:
A.    Ashobah binafsih, Ialahorang yang menjadi asabah karena dirinya sendiri.Jumlah mereka adalah: Anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki dan generasi dibawahnya, bapak dan kakek serta generasi diatasnya, saudara kandung, saudara sebapak, anak laki-laki saudara kandung, anak laki-laki saudara sebapak dan generasi dibawahnya, paman kandung, paman sebapak, anak laki-laki paman kandung, anak laki-laki paman sebapak.
Adapun kelompok asabah binafsih yang di utamakan satu sam lain terdiri atas 4 macam sesuai urutan berikut:
b.      Cabang furu orang yang meninggal (jihat bunuwwah), yaitu anak laki-laki, dan cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah.
c.       Pokok/usul orang yang meninggal (jihat bunuwwah), yaitu meliputi ayah, kakek (bapaknya bapak), dan seterusnya ke atas.
d.      Hawasyi atau kerabat menyamping orang yang meninggal (jihat ukhuwah), yaitu meliputi saudara laki-laki sekandung, saudara lak-laki seayah. Kemudian anak saudara laki-laki seayah terus ke bawah.
e.       Kerabat menyamping yang jauh (jihat umamah), yaitu keterunan dari kakek si pewaris betapa jauhnya, seperti saudara laki-laki ayah kandung dan anak laki-laki mereka saudara laki-laki ayah seayah dan anak laki-laki mereka.
Cara penyelesaian asabah binafsih :
Untuk memgetahui cara menyelesaikan asabah binafsi, dapat dicontohkan sebagai berikut.
a.       Seorang meninggal dunia dengan harta peninggalan sejumlah 1.200.000,00. Ahli waris yang ditinggalkan adalah ayah dan anak laki-laki. Maka penyelasaian sebagai berikut
Ahli waris fard bagian dari asal masalah= 3
Ayah 1/6                     1/6 x 6 = 1
Anak lelaki asabah      6 – 1 =5
Ayah               : 1 x Rp. 1.200.000,00 / 6 = Rp. 200.000,00
Anak lelaki      : 5 x Rp. 1.200.000,00 / 6 = Rp.1.000.000.,00
b.        Seorang meninggal dunia dengan harta peninggalan sejumlah Rp. 1.800.000,00. Ahli waris yang ditinggalkan adalah anak laki-lakinya saudara seayah dan anak perampuan saudara seayah serta paman sekandung.
Ahli waris fard bagian dari asal masalah = 3
Ibu                   1/3       1/3 x 3 = 1
Anak lelaki asabah      3 – 1 = 2
Saudara.
Jadi:       Ibu                   : 1 x Rp. 1.800.000,00 = Rp. 600.000,00
Anak Lk. Sdr  : 2 x Rp. 1.800.000,00 = Rp. 1.200.000,00
Anak Pr. Sdr   : mahjub, karena zawil ahram.
Anak Lk. Sdr  : mahjub, oleh anak laki-laki saudara kerana berjihat umamah, sedangkan anak laki-laki saudara berjihat bunuwwah.
B.  Ashobah bighairihi, Ialahorang (perempuan) yang menjadi asabah karena dibawa oleh orang (laki-laki) lain yang sederajat dan seusbah. Mereka adalah:
a. 1 anak perempuan atau lebih, yang ada bersama anak laki-laki.
b. 1 cucu perempuan dari anak laki-laki atau lebih, yang ada bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki.
c. 1 orang perempuan kandung atau lebih yang ada bersama saudara kandung.
d. 1 orang saudara perempuan sebapak atau lebih yang ada bersama saudara laki-laki sebapak.
Orang yang menjadi ashabah dengan orang lain atau ashabah bil ghair sama seperti orang yang menjadi ashabah dengan dirinya sendiri dalam dua hukum terakhir,yaitu sama-sama menerima mengambil bagian yang tersisa ,setelah pembagian tetap. Apabila ash-habul furudh mengambil semua harta waris,ia tidak mendapatkan apa-apa. Sedangkan dalam hukum pertama yaitu jika ia sendiri,ia dapat mengabil seluruh harta waris-hal itu tidak terjadi pada ashabal bil ghair,karena ia tidak mungkin sendiri.
3.    Ashobah ma’al ghairi, Ialahsaudara perempuan kandung atau sebapak yang menjadi asabah karena didampingi oleh keturunan perempuan.mereka adalah:
a.             Seorang saudara perempuan kandung atau lebih, yang ada bersama anak perempuanatau cucu perempuan dari anak laki-laki.
b.             Seorang saudara perempuan sebapak atau lebih, yang ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.
Contoh penyelesaian Asabah Ma’al Ghair :
1.      Seorang meninggal,dengan ahli waris terdiri atas anak perempuan,saudara perempuan sekandung,dan saudara perempuan seayah. Harta yang di tinggalkan sejumblah Rp.100.000.000,00.
Penyelesaiannya adalah :
Ahli waris Fard Bagian dari asal muasal:2
Anak Pr.     ½       ½ x 2 = 1
Sdri kandung  asabah ma al-ghair 2-1 = 1
Sdari seayah mahjuj,oleh anak perempuan kandung yang menjadi asabah                     ma-al ghair
Dengan demikian maka :
Anak Pr.       :1x Rp. 100.000.000: 2 = Rp. 50.000.000
Sdari Kdng   :1x Rp. 100.000.000: 2 = Rp. 50.000.000
2.      Seorang meninggal,ahli warisnya terdiri dari dua anak perempuan sekandung dan perempuan seayah,serta anak laki-laki saudara kandung. Harta yang di tingalkan sejumblah Rp.300.000.000
Penyelesaiannya adalah :
Ahli waris Fard Bagian dari asal muasal:2
2 ank Pr.     2/3        2/3x3= 2
Sdri seayah                 3-2=1
Anak laki-laki mahjub ,oleh saudara se ayah. Jadi masing-masing mendapat:
2 Anak Pr.  : 2x Rp.300.000.000 : 3= Rp. 200.000.000
Sdri seayah : 1x Rp.300.000.000 : 3= Rp. 100.000.000

2.7  Hajib dan Mahjub,
Didalam ilmu furaidh dikenal istilah hajib dan mahjub. Arti kata hajib yang bermakna “penjaga” secara istilah definisinya adalah keluarga dari orang meninggal dunia yang menhalangi keluarga lain yang seakrab untuk peroleh pusaka atau warisan. Sementara arti dari Mahjub adalah orang yang terhalangi menerima warisan karena adanya ahli waris yang berhubungan keakraban lebih dekat dan lebih kuat kedudukannya. Dalil yang membenarkan masalah hajib dan mahjub sebagai aturan kewarisan dalam islam adalah surat An-nisa : 176, yang artinya : “Dan dia (saudara laki-laki kandung atau seayah) menjadi ahli waris yang dapat warisan apabila yang meninggal itu tidak mempunyai anak”. Berdayarkan ayat ini dapat dipahami bahwa kedudukan saudara adalah mahjub sedangkan kedudukan anak adalah hajib. Namun ada dua macam hijab yaitu:
1.      Hijab Hirman, yaitu penghapusan seluruh bagian, karena ada ahli waris yang lebih dekat hubungannya dengan orang yang sudah meninggal. Contohnya: cucu laki-laki dari anak laki-laki, tidak dapat bagan selama ada anak laki-laki.
2.      Hijab Nuqshon, yaitu pengurangan harta warisan, karena ada ahli earis lain yang membersamai, contoh: ibu mendapatkan 1/3 bagian, tetapi kala yang meninggal mempunyai anak atau cucu atau beberapa saudara, maka bagian ibu berubah menjadi 1/6.
Dengan demikian ahli waris yang terhalang (tidak mendapat bagian) yang disebut mahub firman, ada ahli waris yang bergeser atau berkurang bagiannya yang di sebut mahjub nuqshan. Ahli waris yang terakhir ini tidak akan terhalang meskipun semua ahli waris ada, mereka tetap akan mendapatkan bagian harta warisan meskipun berkurang. Mereka adalah ahli waris dekat yang disebut Al-Aqrabun, mereka terdiri dari: Suami atau istri, anak laki-laki dan anak perempuan, Ayah dan Ibu. Ahli waris yang sama sekali tidak terhijab atau terhalang adalah:
1.      Anak laki-laki kandung
2.      Anak perempuan kandung
3.      Ayah
4.      Ibu
5.      Suami
6.      Istri
Dan ahli waris yang kemungkinan bisa terhijab nuqshan adalah: Ibu dapat terhijab nuqshan oleh anak laki-laki, cucu laki-laki dan dua orang saudara atau lebih baik laki-laki maupun perempuan baik yang sekandug ataupun yang tidak. Bapak dapat terhijab nuqshan oleh anak laki-laki dan cucu laki-laki. Suami/Istri dapat terhijb nuqshan oleh anak laki-laki dan cucu laki-laki.
Ahli waris terhijab Hirman adalah berikut ini ahli waris yang terhijab atau terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat hubungannya dengan yang meninggal. Mereka adalah:
1.      Kakek (Ayah dari Ayah) terhijab/terhalang oleh ayah, jika ayah masih hidup maka kakek tidak mendapat bagian
2.      Nenek (Ibu dari Ibu) terhijab/terhalang oleh Ibu
3.      Nenek dari Ayah, terhijab/terhalang oleh Ayah dan juga oleh Ibu
4.      Cucu dari anak laki-laki terhijab.terhalang oleh anak laki-laki
5.      Saudara kandung laki-laki terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki dari anak laki-laki
c.       ayah
6.      saudara kandung perempuan terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      ayah
7.      saudara ayah laki-laki dan perempuan terhijab/terhalang oleh
a.       anak laki-laki
b.      anak laki-laki dan anak laki-laki
c.       ayah
d.      saudara kandung laki-laki
e.       saudara kandung perempuan
f.       anak perempuan
g.      cucu perempuan
8.      saudara seibu laki-laki/perempuan terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki atau perempuan
b.      cucu laki-laki atau perempuan
c.       ayah
d.      kakek
9.      anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki
c.       ayah
d.      kakek
e.       saudara kandung laki-laki
f.       saudara ayah laki-laki
10.  anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah terhijab/terhalang oleh
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki
c.       ayah
d.      kakek
e.       saudara kandung laki-laki
f.       saudara seayah laki-laki
11.  paman (saudara laki-laki sekandung seayah) terhijab/terhlang oleh
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki
c.       ayah
d.      kakek
e.       saudara kandung laki-laki
f.       saudara seayah laki-laki
12.  paman (saudara laki-laki sebapak ayah) terhijab.terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki
c.       ayah
d.      kakek
e.       saudara kandung laki-laki
f.       saudara seayah laki-laki
13.  anak laki-laki paman sekandung terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki
c.       ayah
d.      kakek
e.       saudara kandung laki-laki
f.       saudara seayah laki-laki
14.  anak laki-laki paman seayah terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      cucu laki-laki
c.       ayah
d.      kakek
e.       saudara kandung laki-laki
f.       saudara seayah laki-laki
15.  cucu perempuan dari anak laki-laki terhijab/terhalang oleh:
a.       anak laki-laki
b.      dua orang perempuan jika cucu perempuan tersebut tidak bersaudara laki-laki yang menjadikan dia ashabah.

2.8    Perhitungan Aul dan Radd
1.      Pengertian Aul
Kata Aul berasal dari bahasa Arab, yang artinya lebih atau banyak. Secara bahasa juga bermakna Azh-Zhulm yang berarti aniaya. Sedangkan menurut Istilah, Aul adalah jumlah bilangan bagian lebih dari asal masalah yang dibagi kepadanya kadar harta peninggalan.
Adapun dalam terminology hukum kewarisan, Aul adalah menambahkan angka asal masalah ini dengan yang diterima ahlai waris. Langkah ini ditempuh, karena apabila dielesaikan menurut ketentuan yang semestinya, akan terjadi kekurangan harta.
Contohnya sebagai berikut:
Seorang istri meninggal dunia (P). Ia meninggalkan ahli waris yang terdiri atas seorang suami (A) dan dua orang perempuan saudara kandung (B dan C). Harta peninggalan yang ditinggalkan pada saat meninggal dunia berjumlah Rp 66.000.000,-. Selain itu, ia meninggalkan biaya rumah sakit Rp 1.500.000,- dan wasiat yang senilai dengan Rp 1.000.000,- serta biaya penguburan Rp 500.000,-. Karena itu, jumlah harta peninggalan yang menjadi harta warisan berjumlah Rp 63.000.000,-. Pembagian harta yang dimaksud sebagai berikut:[3]
A                     = 1/2 x 63.000.000        = 31.500.000
B dan C           = 2/3 x 63.000.000     = 42.000.000+
Jumlah                                                  = 73.500.000

Menurut ketentuan Pasal 192 Kompilasi Hukum Islam, pembagian harta warisan yang dilakukan berdasarkan ketentuan yang ada dalam al-Qur’an, tetapi tidak cukup karena misalnya dalam kasus diatas, yaitu harta warisan berjumlah Rp 63.000.000 sedangkan perhitungan bagian ahli waris yang ditetapkan bagiannya akan berjumlah Rp 31.500.000 + Rp 42.000.000 = Rp 73.500.000. sehubungan dengan kasus yang dimaksud, maka dalam hal ini berlaku yang dinamakan aul, yaitu seharusnya suami menerima ½ menjadi 3/6 dan dua orang saudara perempuan seharusnya menerima 2/3 atau 4/6 sehingga menjadi 3/6 + 4/6= 7/6. Perbandingannya 3 : 4. Oleh karena itu pembagiannya disesuaikan dengan perbandingan, yaitu:
            Suami menerima                                  = 3/7 x 63.000.000 = 27.000.000
            Dua orang saudara perempuan            = 4/7 x 63.000.000 = 36.000.000+
            Jumlah                                                                                 = 63.000.000


2.      Radd
Kata radd ditinjau dari aspek bahasa berarti “i’adah” yang berarti “mengembalikan”, dan bisa juga berarti “sharf” yang berarti “memulangkan kembali”. Ali Ash-Shabuny melengkapi pengertian radd yang ditinjau dari segi aspek bahasa bisa bermakna penolakan atau penyerahan.
Sedangkan radd menurut istilah ilmu faraidh adalah pengembalian apa yang tersisa dari bagian dzawil furudh nasabiyah kepada mereka sesuai dengan besar kecilnya bagian mereka bila tidak ada orang lain yang berhak menerimanya.
Masalah radd merupakan kebalikan dari masalah aul. Cara radd ditempuh untuk mengembalikan sisa harta kepada ahli waris seimbang dengan bagian yang diterima masing-masing ahli waris secara proporsional.
Dari berbagai pengertian baik yang ditinjau dari aspek bahasa atau istilah, radd pada intinya sangat terkait dengan persoalan adanya sisa harta warisan yang berlebih yang akan dikembalikan kepada ahli waris  ashabul furudh secara berimbang sesuai dengan besar kecilnya bagian yang telah diterimanya berdasarkan ketentuan furudhul muqaddarah, sehingga akan berpengaruh pula dengan operasional metode perhitungannya. Dengan kata lain, bahwa pengaruh ini nantinya akan menambah perolehan masing-masing ahli waris setelah menerima bagian yang telah ditentukan.
Contohnya sebagai berikut:
Seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris yang terdiri dari seorang anak perempuan dan seorang ibu. Harta warisan yang ditinggalkan sejumlah Rp 120.000.000,-. Pembagiannya sebagai berikut:
            Anak perempuan menerima = 1/2 bagian  = 3/6 bagian
            Ibu menerima                       = 1/6 bagian =1/6 bagian
            Jumlah                                                       = 4/6 bagian

Pembagian tersebut masih ada sisa 6/6 – 4/6 = 2/6 bagian. Perbandingan yang diterima oleh seorang anak perempuan dan ibu pewaris adalah 3 : 1. Pembagiannya sebagai berikut:
            Anak perempuan menerima = 3/4 x 120.000.000 = 90.000.000
            Ibu pewaris menerima          = 1/4 x 120.000.000 = 30.000.000
            Jumlah                                                                  = 120.000.000







BAB III

1.1  Kesimpulan
         Dari pembahasan di atas yang menjelaskan tentang      tirkah , wasiat wajibah, ahli waris nasabiyah, ahli waris sababiyah, ashab al-frudh, ashab asabah, hajib, mahjub perhitungan auld an rabb maka dapat disimpulkan bahwa harta yang telah di tinggalkan oleh seorang mayyit (tirkah) merupakan harta waris yang dimana harta tersebut di wasiatkan kepada sang ahli waris baik yang dikehendaki maupun tidak dikehendaki oleh yang meninggal dunia dengan pelaksanaan pun sesuai dengan kaidah atau aturan berlaku dengan syariat islam yang sesuai dengan ayat ataupun hadits (fiqh). Dari pembagian harta warisan tersebut tentunya di tetapkan dengan kekerabatannya (nasabiyah atau sababiyah) yang dimana akan di bagi secara merata sesuai dengan aturannya yaitu bagi seorang ahli waris ashab furudh akan mendapatkan 1/2, 1/4, 1/8, 1/3, 2/3, 1/6 dan sisanya akan menjadi milik ashab asabah namun dengan begitu tidak semuanya akan menerima bagian dari harta warisan, beberapa keluarga mayit (dekat) yang di tinggalkannya hal ini tentunya tentang aturan atau syariat yang dimana apakah seorang tersbut terhalang atau tidaknya (hajib/mahjub).
         Dengan begitu dalam peninggalan harta warisan tentunya ada aturan-aturan yang sesuai dengan syariat islam dan dengan di perhitungkan seadil-adilnya, hal ini sesuai dengan surat maupun hadits serta adanya kasus yang sering terjadi dalam masyarakat di manapun khususnya masyarakat yang beragama muslim.








DAFTAR PUSTAKA










Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian tirkah, wasiat wajibah, ahli waris nasabiyah, ahli waris sababiyah, ashab al-furudh, ashab asabah, hajib, mahjub, perhitungan aul dan radd"