Apakah Anda Menyukainya?

Search This Blog

Perbandingan Sistem Ekonomi : Konsep Merkantilisme


PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Merkantilisme
Dalam sejarah perkembangan ekonomi dunia sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Bisa dikatakan bahwa ketika manusia lahir di dunia sudah memahami ekonomi, hal ini dengan menyadari segala kebutuhan hidup (sandang, pangan dan papan) dan pada saat itulah memehami adanya konsep ekonomi. Dan salah satunya adalah konsep marketalisme dalam ekonomi.
Sedangkan merkantilisme muncul pada abad pertengahan, yaitu pada abad ke-14 dan ke-17. Kemunculan ini tidak berlangsung secara cepat dan tidak pula terlihat secara jelas dan tegas, namun pondasi awal munculnya merkantilisme ini merupakan tolak ukur bagi kapitalis perdagangan.
Pada abad tersebut memang sudah berlangsung juga ekonomi politik akan tetapi tidak begitu nampak di kalangan masyarakat. Masyarakat pada itu masih menitik beratkan pada kesejahteraan ekonomi pasarnya masing-masing.
Dan atas faktor perubahan tersebut, ada banyak faktor perubahan yang mendorong mengenai pemahaman merkantilisme tersebut. Yaitu menurut pemikir ekonomi Eatwell 1987: 445 beberapa faktor adalah sebagai berikut:
1.      Banyaknya penemuan dan penaklukan wilayah geografi baru oleh negara-negara eropa
2.      Adanya arus modal baru, baik dari wilayah geografi ataupun wilayah geografi baru tersebut.
3.      Kebangkitan para raja dan saudagar yang mendorong nasionalisme
4.      Perkembangan perdagangan lokal, menuju perkembangan baru keluar negeri dengan tujuan untuk mendapat keuntungan lebih besar lewat perdagangan luar negeri
5.      Meredupnya kekuasaan lama gereja dan golongan ningrat (Chilcote, 2010: 552)
Negara yang melakukan penjelajahan terutama negara eropa memang pada saat itu bertujuan untuk menemukan daerah-daerah baru, kemudian penemuan-penemuan baru tersebut memunculkan asumsi bahwa perdagangan pada tingkat lokal tidak memperoleh keuntungan yang lebih. Dan pada akhirnya perdagangan ini minimbulkan kesempatan untuk lewat perdagangan luar negeri. Akan tetapi penjelajahan ini berdampak pada persaingan dagang antar negara penjelajah.

2.2 Kelompok Merkantilisme
Dalam prinsipnya mekantilisme adalah sebuah fase dalam kebijakan ekonomi guna menjamin kesatuan politik dan kekuatan nasionalismenya yang banyak di parktikkan oleh bangsa eropa, sistem ini disebut dengan the commercial or mercantile system yang di pelopori oleh Adam Smith yaitu dikenal sebagai Bapak pendiri ekonomi klasik. Dalam hal ini pula terbagi menjadi dua kelompok merkantilisme, yaitu:
A.    Bullionist
Kelompok ini dengan tokoh Gerald Malynes yang merupakan penggagas pada penekanan kemakmuran negara peningkatan logam mulia. Kelompok ini berpendirian bahwa menjual barang kepada negara lain akan selalu baik dari pada membeli dari negara lain, sebab menjual barang akan menghasilkan keuntungan, sedangkan membeli barang hanya akan menimbulkan kerugian. Keunggulan pada menjual barang itu selalu mendorong kebijakan ekonomi yang dapat menghasilkan surplus ekspor, karena dengan surplus tersebut berarti akan dibayar dengan logam mulia. Dalam gagasan tersebut untuk mencapai surplus ekspor adalah untuk menumpuk logam mulia.




B.     Murni
Kelompok ini dalam teori atau gagasan yang paling menonjol adalah dengan masalah suku bunga (rate). Suku bunga yang sangat rendah akan menguntungkan bagi setiap penerimaan kredit dan bunga yang rendah akan sangat mendorong kegiatan ekonomi, dikarenakan perluasan usaha dimana usaha baru hanya mungkin dilakukan apabila tersedia dengan tingkat suku bunga yang rendah. Hal ini agar aktivitas ekonomi berkembang, harga barang juga harus meningkat, dan peningkatan harga barang mungkin terjadi jika jumlah uang yang beredar dalam masyarakat bertambah.
Dalam golongan ini untuk meningkatkan uang, agar uang dapat diperbanyak dengan menempuh melalui perdagangan internasional. Prinsip ini disebut dengan foreign trade produces richest, richest power, power preserves of trade religion. Pula dalam konsep ini mengandung beberapa sifat pokok merkantilisme sebagai berikut:
1)      Menitik beratkan pada perdagangan antar negara
2)      Hasrat untuk mencapai kemakmuran
3)      Usaha untuk mengembangkan kekuasaan
4)      Hubungan yang erat antara kebutuhan dan kekuasaan dengan perdagangan maupun agama.









2.3 Kebijakan Merkantilisme
Dalam kebijakan-kebijakan tentunya  dengan jaminan ekonomi supaya lebih maju, terutama dalam sektor kesatuan politik dan kekuatan nasionalismenya suatu negara. Dengan ini, kebijakan pokok dalam merkantilisme mempunyai dua kebijakan penting, yaitu:
a.       Kebijakan merkantilisme dalam usaha dalam memperoleh monopoli perdagangan. Monopoli perdagangan tersebut diharuskan mempunyai armada kesatuan yang kuat.
b.      Kebijakan lanjutan berupa usaha memperoleh daerah-daerah jajahan.

2.4 Ciri Gagasan Utama Merkantilisme
Gagasan utama dalam menjalankan merkantilisme mempunyai empat keunggulan ciri tersebut, yakni:
a.       Ketakutan terhadap sesuatu barang (komoditi)
b.      Sikap terhadap penjualan barang (komoditi)
c.       Keinginan untuk memupuk logam mulia
d.      Ketidaksenengan terhadap tingkat suku bunga.

2.5 Sektor Perdagangan Kebijakan Merkantilisme
Dalam sektor perdagangan luar negeri, kebijakan merkantilisme berpusat pada dua ide pokok untuk menjalankannya, yaitu:
a.       Pemupukan logam mulia
Sektor perdagangan ini bertujuan untuk pembentukan negara nasional yang kuat dan guna kemakmuran nasional demi mempertahankan dan mengembangkan kekuatan negara tersebut.


b.      Neraca perdagangan yang aktif
Hal ini setiap politik perdagangan ditujukan untuk menunjang kelebihan ekspor di atas impor, maka di haruskan mendorong ekspor dan membatasi impor, guna perdaganga luar negeri untuk memperoleh tambahan logam mulia.

2.6 Kritik Terhadap Merkantilisme
Dalam teori mampu berpendapat sesuai dengan keilmuan yang dipunyainya. Akan tetapi perlu diketahui bahwa, dalam gagasan berteori atau berpendapat tidak semuanya diterima oleh para ahli. Hal ini telah disampaikan oleh seorang sisiokrat terkemuka, yakni Fancois Quesnay dalam Economic Table (1758), yang menyampaikan bahwa ia menentang asumsi merkantilisme, bahwa kesejahteraan berkembang dari perdagangan dan industri, ia menekankan tentang surplus yang dihasilkan dalam pertaniannya.
Kritik lainnya juga di ungkapkan oleh David Hume terhadap merkantilisme, yaitu
1.      Potensi inflasi terhadap pemupukan logam mulia
2.      Menurunnya kualitas ekspor barang
3.      Kuantitas impor meningkat
4.      Terjadi defesit neraca perdagangan
5.      Raja menjadi miskin
Sedangkan kritik oleh Adam Smith terhadap merkantilisme, yakni:
1.      ukuran kemakmuran suatu negara tidak seharusnya ditentukan oleh banyaknya logam mulia yang dimiliki.
2.      kemakmuran negara ditentukan berdasarkan pada nilai GDP (Gross Domestic Product) dan sumbangan perdagangan luar negeri terhadap pembentukan GDP.
3.      untuk meningkatkan GDP dan perdagangan luar negeri, pemerintah harus mengurangi campur tangan terhadap perdagangan agar dapat tercipta perdagangan bebas atau free trade.
4.      Free trade memunculkan persaingan perdagangan yang semakin ketat, sehingga mendorong masing-masing negara untuk melakukan spesialisasi dan pembagian kerja internasional, berdasarkan keunggulan absolut yang dimiliki oleh masing-masing negara.
5.      Spesialisasi dan pembagian kerja internasional yang didasarkan pada konsep absolute advantage dapat memacu peningkatan produktivitas dan efisiensi. Pada akhirnya, hal ini dapat mendorong peningkatan GDP dan perdagangan luar negeri.
6.      Peningkatan GDP dan perdagangan internasional identik dengan kemakmuran suatu negara.

2.7 Merkantilisme Di Era Modern
Pada munculnya merkantilisme di abad 14, mayoritas negara eropa mampu berperan sangat maju dan merkantilisme pada abad 17 mengalami peredupan, akan tetapi di era modern merkantilisme sama sekali tidak di tinggalkan. Namun markentalisme justru mengalami perkembangan lewat kritik-kritik dan masukan yang dilayangkan para pengamatnya.
Di era modern masih banyak menjalankan merkantilisme namun dalam bentuk “neo merkantilisme”. Neo merkantilisme dimaksud adalah kebijakan yang memuat proteksi dengan tujuan melindungi dan mendorong ekonomi industri nasional, melalui kebijakan tarif atau Tarif Barrier dan kebijakan Non Tarif Barrier.
                       
Tariff barrier dalam rangka kebijakan proteksi ini banyak menerapkan bentuk countervailing duty, bea anti dumping dan surcharge. Namun, kebijakan proteksi yang lebih banyak digunakan biasanya adalah dalam bentuk Nontariff Barrier, seperti contohnya kebijakan larangan, sistem kuota, ketentuan teknis, harga patokan, peraturan kesehatan, dan lain sejenisya.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dengan demikian dalam konsep merkantilisme memenuhi kebijakan-kebijakan dalam merkantilisme, kebijakan dalam sektor perdagangan merkantilisme dan ciri dalam gagasan merkantilisme, serta dalam perdagangan internasional menitik beratkan pada membesarkan ekspor di atas impor namun kelebihan ekspor dapat dibayar dengan logam mulia. Tentunya dalam hal ini merkantilisme adalah kebijakan dalam usaha untuk memonopoli perdagangan dan yang terkait lainnya dalam memperoleh daerah-daerah jajahan guna memasarkan hasil industri.












DAFTAR PUSTAKA

-          Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kelima ©2016 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kelima 2016)
-          Eatwell, John , et.al. 1987. The Palgrave: A Dictionary of Economics. London:  McMillan Press Limited.

-          https://www.ajarekonomi.com/2016/10/merkantilisme-dalam-sejarah.html (Diakses pada 21-02-2019, 21:15).

-          https://id.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme   (Diakses pada 21-02-2019, 21:08).

-          https://portal-ilmu.com/teori-merkantilisme/ (Diakses pada 22-02-2019, 15:22)


Labels: Kuliah

Thanks for reading Perbandingan Sistem Ekonomi : Konsep Merkantilisme. Please share...!

0 Komentar untuk "Perbandingan Sistem Ekonomi : Konsep Merkantilisme"

Back To Top