-->

Apakah Anda Menyukainya?

Search This Blog

Manajemen Risiko - IDENTIFIKASI RISIKO, RISIKO KERUSAKAN PROPERTY, RISIKO KEMATIAN, PANDANGAN ASURANSI DAN PREMI


BAB I

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Dalam menjalankan suatu perusahaan sangat diperlukan suatu elemen yang sangat penting yakni manajemen risiko, dimana seiring dengan berkembangnya suatu perusahaan maka akan meningkat pula komplektisitas aktivitas perusahaan mengakibatkan meningkatnya tingkat risiko yang dihadapi perusahaan.Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari segi operasional bagi perusahaannya, lembaga perusahaan perlu mengelola risiko dengan menyeimbangkan antara strategi bisnis dengan pengelolaan risikonya.
Adapun pengertian manajemen risiko yakni merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis, serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi (Darnawi, 2006). Manajemen risiko mempunyai arti yang lebih luas, yaitu semua risiko yang terjadi didalam masyarakat (kerugian harta,jiwa, keuangan, usaha dan lain-lain).[1]
Manajemen risiko berhubungan erat dengan fungsi-fungsi perusahaan baik dari fungsi keuangan, fungsi akuntansi, fungsi pemasaran, fungsi produksi, fungsi personalia, fungsi teknik dan fungsi pemeliharaan. Oleh karena itu, fungsi-fungsi tersebut mengandung banyak risiko dalam pengelolaan perusahaan.[2]
Risiko itu sendiri adalah potensi terjadinya suatu peristiwa baik yang dapat diperkirakan maupun yang tidak dapat diperkirakan yang dapat menimbulkan

dampak bagi pencapaian tujuan organisasi.  Guna memperoleh hasil yang maksimum dari program perusahaan, maka dibutuhkan rencana yang mantap dan terarah serta diperlukan pengendalian sekaligus pengelolaan risiko dalam suatu perusahaan.
Tidak jarang dalam meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang pada perusahaan, kita mempercayakan pada pihak asuransi yang akan mengganti serta bertanggungjawab atas kerugian-kerugian yang terjadi.                    

2. Rumusan Masalah­

a.    Bagaimana cara mengidentifikasi risiko ?
b.    Bagaimana cara mengukur risiko ?
c.    Apa saja yang termasuk dalam risiko kerusakan properti dan kewajiban ?
d.   Apa saja yang termasuk dalam risiko kematian ?
e.    Bagaimana pandangan tentang asuransi dan penentuan  premi ?

3. Tujuan Penulisan

  1. Memahami cara mengidentifikasi risiko
  2. Memahami cara mengukur risiko
  3. Mengetahui tentang risiko kerusakan properti dan kewajiban
  4. Mengetahui tentang risiko kematian
  5. Memahami pandangan mengenai asuransi dan penentuan premi.

BAB II

B. PEMBAHASAN

A. Identifikasi Risiko

1. Pengertian Identifikasi Risiko

            Identifikasi Risiko adalah usaha untuk menemukan atau mengetahui resiko-resiko yang mungkin timbul dalam kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau perorangan. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk  perusahaannya adalah sebagai berikut :
a.       Mengetahui kemungkinan-kemungkinan terjadinya suatu kerugian dan harus berhati –hati atas kemungkinan timbulnya setiap kerugian dan hal ini merupakan tugas utama seorang manajer risiko.
b.      Memperkirakan frekuensi dan besar kecilnya risiko sehingga dapat diperkirakan kemungkinan kerugian maksimum dari risiko yang berasal dari berbagai sumber.
c.       Memutuskan pemakaian metode pengolahan risiko yang terbaik dan paling ekonomis, apakah dengan jalan menghapuskan, mengurangi, membatasi, menanggung sendiri, memindahkan atau mengkombinasikan metode-metode tersebut.
d.      Mengadministrasikan  program-program manajemen risiko termasuk mengadakan penilaian kembali atas program-program, pencatatan-pencatatan dan lain sebagainya.

2. Metode Identifikasi Risiko

Adapun metode yang digunakan dalam mengidentifikasi risiko adalah sebagai berikut :
1.      Analisis data historis
Merupakan Metode identifikasi risiko dengan mneggunakan berbagai informasi data yang tersedia dalam perusahaan mengenai segala sesuatu yang pernah terjadi.
2.      Pengamatan dan Survey
Merupakan metode identifikasi risiko dengan melakukan investigasi atau pencarian data langsung ditempat kejadian, biasanya menggunakan kuesioner, inspeksi langsung dan interaksi dengan unit kerja yang bersangkutan.
3.      Pengacuan (Benchmarking)
Merupakan metode identifikasi risiko tentang risiko ditempat atau perusahaan lain.
4.      Pendapat ahli
Merupakan metode identifikasi risiko dengan mencari informasi dari ahli di bidang risiko tertentu.
Sumber Informasi dalam mengidentifikasi risiko diantaranya adalah sebagai berikut :
1.    Dokumen Internal
Misalnya : laporan keuangan, strategi dan rencana, standar dan prosedur operasi, dokumen SDM, surat perintah dll.
2.    Dokumen Eksternal           
Misalnya : koran, majalah, data publikasi, statistik keuangan dan ekonomi, dan sumber lainnya.
3.    Pihak Internal Perusahaan
Contoh : Karyawan yang mengoperasikan mesin selama bertahun-tahun dapat menjadi narasumber yang berkompeten. Namun seringkali karyawan tertutup dan berpersepsi bahwa semakin banyak risiko di unit kerjanya, semakin buruklah cara kerja mereka. Akan tetapi tidak ada hubungan antara jumlah risiko dan kualitas kerja.
4.    Pihak Eksternal Perusahaan
Contohnya : konsumen, pemasok, pengamat, tenaga ahli, pesaing, dll.
Adapun mereka yang dianggap sebagai tenaga ahli disini adalah mereka yang memiliki kriteria sebagai berikut :
a.    Secara rutin menangani obyek yang sedang diidentifikasi risikonya
b.    Orang disekitarnya yang berpengaruh atau bisa mempengaruhi, misalnya atasannya atau rekan kerjanya.
c.    Ahli dalam bidang akademik mengenai obyek yang bersangkutan.

3. Proses Identifikasi Risiko

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses mengidentifikasi risiko, diantaranya adalah :
a.    Menentukan unit risiko
Misalnya yang akan diidentifikasi adalah unit penjualan, maka risk ownernya adalah unit penjualan.
b.    Memahami proses bisnis
Setiap unit memberikan layanan / menghasilkan produk kepada unit yang lain atau kepada pelanggan. Dalam menghasilkan produk/jasa ini, setiap unit melakukan berbagai aktivitas. Dengan memahami proses bisnis,kita bisa mengetahui aktivitas-aktivitas yang ada pada suatu unit risiko. Pada umumnya, proses bisnis terdiri dari 2 kelompok aktivitas, yakni aktivitas utama dan aktivitas pendukung.
c.    Menentukan aktivitas yang krusial
Yakni apabila unit risiko tidak dapat menghasilkan produk atau jasa oleh karena aktivitas yang bersangkitan terganggu atau tidak berjalannya aktivitas dengan semestinya. Aktivitas yang tidak krusial dapat diabaikan karena pengaruhnya tidak signifikan pada produk atau jasa yang dihasilkan.
d.   Menentukan barang dan orang yang ada pada aktivitas krusial tersebut.
Yakni dengan menentukan siapa orangnya dan apa saja barang-barangnya ?
e.    Menentukan bentuk kerugian yang dapat terjadi pada barang dan orang dari aktivitas krusial tersebut.
Bentuk kerugian pada orang : Cidera, sakir, meninggal dunia, hilang, demonstrasi, mogok kerja berhenti bekerja, berhalangan dll.
Bentuk kerugian pada barang : Rusak, hilang tidak sesuai, usang, terbakar, tidak berkualitas, dicuri, diselewengkan, tak tertagih dll.
f.     Menentukan penyebab terjadinya kerugian atau risiko
Risiko keuangan diantaranya : perubahan harga, nilai tukar dan tingkat bunga.
Risiko operasional diantaranya :
1)   Manusia : kompetensi, moral, selera
2)   Teknologi : keusangan, kualitas, kesesuaian
3)   Alam : bencana alam, kondisi alam, makhluk selain manusia.
Mengetahui penyebab risioko sangat penting karena penanganan risiko yang sama akan berbeda jika penyebabnya berbeda. Misalnya : penangan risiko kebakaran karena listrik berbeda dengan karena tabung gas yang meledak.
g.    Membuat daftar risiko
Berisi dua hal penting, yakni pernyataan risiko dan penyebab risiko. Adapun karakteristik risiko adalah sebagai berikut :
1)   Merupakan suatu kejadian
2)   Kejadian tersebut mengandung kemungkinan
3)   Jika terjadi akan mengakibatkan kerugian

B. Mengukur Risiko

1. Pengertian Pengukuran Resiko

Pengukuran resiko adalah usaha untuk mengetahui besar/kecilnya resiko yang akan terj           adi. Hal ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya resiko yang dihadapi perusahaan, kemudian bisa melihat dampak dari resiko terhadap kinerja perusahaan sekaligus bisa melakukan prioritisasi resiko, resiko yang mana yang paling relevan.
Pengukuran resiko merupakan tahap lanjutan setelah pengidentifikasian resiko. Dimana pengidentifikasian risiko pada dasarnya merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan berkesinambungan untuk menemukan/mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya kerugian yang potensial yang dihadapi/mengancam perusahaan. 
Hal ini dilakukan untuk menentukan relatif pentingnya resiko, untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan  kombinasi peralatan manajemen resiko yang cocok untuk menanganinya.
Adapun dimensi (bagian) yang harus diukur adalah sebagai berikut :
1.    Frekuensi atau jumlah kejadian yang akan terjadi
           Besarnya kemungkinan kejadian artinya berapa besar kemungkinan suatu peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian) yang dapat menimbulkan risiko dapat terjadi dalam suatu periode.
2.     Keparahan dari kerugian
           Besarnya kerugian bila suatu risiko terjadi, artinya berapa besar kerugian yang diderita bila suatu risiko terjadi. Jadi dalam hal ini tingkat kegawatan (reverity) atau keparahan dari kerugian-kerugian tersebut,  sampai seberapa besar pengaruhnya terhadap kondisi perusahaan, terutama kondisi finansialnya
Dari hasil pengukuran yang mencakup dua dimensi (bagian) tersebut paling tidak diketahui:
a.       Nilai rata-rata dari kerugian selama suatu periode anggaran.
b.      Variasi nilai kerugian dari satu periode anggaran ke periode anggaran yang lain naik-turunnya nilai kerugian dari waktu ke waktu.
3.    Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian  
           Yaitu kerugian yang ditanggung sendiri (diretensi), jadi tidak hanya nilai rupiahnya saja.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan dimensi (bagian) pengukuran tersebut, antara lain:
1.  Orang umumnya memandang bahwa dimensi kegawatan dari suatu kerugian potensial lebih penting dari pada frekuensinya atau jumlah kejadian yang akan terjadi.
2.  Dalam menentukan kegawatan dari suatu kerugian potensial seorang Manajer Risiko harus secara cermat memperhitungkan semua tipe kerugian yang dapat terjadi, terutama dalam kaitannya dengan pengaruhnya terhadap situasi finansial perusahaan.
3.  Dalam pengukuran kerugian Manajer Risiko juga harus memperhatikan orang, harta kekayaan atau exposures yang lain, yang tidak terkena peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian).
4.  Kadang-kadang akibat akhir dari peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian) terhadap kondisi finansial perusahaan lebih parah dari pada yang diperhitungkan, antara lain akibat tidak diketahuinya atau tidak diperhitungkannya kerugian-kerugian tidak langsung.
5.   Dalam mengestimasi kegawatan dari suatu kerugian penting pula diperhatikan jangka waktu dari suatu kerugian, di samping nilai rupiahnya.

2. Evaluasi dan pengukuran  resiko

Tujuan evaluasi risiko adalah memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Jika kita memahami risiko dengan lebih baik, maka risiko akan lebih mudah dikendalikan.
1. Mempelajari karakteristik risiko
2.  Melakukan pengukuran terhadap risiko (mengembangkan ukuran besar kecilnya risiko)
3. Mengukur dampak risiko tersebut terhadap organisasi
4. Evaluasi dan pengukuran risiko bisa digunakan untuk melakukan prioritisasi risiko

3. Teknik Pengukuran Resiko

            Adapun teknik dalam mengukur risiko adalah sebagai berikut :
1. Pengukuran resiko dengan distribusi probabilitas (kemungkinan)
Digunakan sebagai gambaran kualitatif dari peluang atau frekuensi. Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik, diukur dengan rasio dari kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan kejadian atau hasil. Probabilitas dilambangkan dengan angka dari 0 dan 1, dengan 0 menandakan kejadian atau hasil yang tidak mungkin dan 1 menandakan kejadian atau hasil yang pasti.
 Konsep probabilitas yaitu dengan konsep mengenai “sample space”(lingkup kejadian) dan event suatu kejadian atau peristiwa. Sample Space (Set S) merupakan suatu set dari kejadian tertentu yang diamati.  Misalnya : jumlah kecelakaan mobil di wilayah tertentu selama periode tertentu. Suatu Set S bisa terdiri dari beberapa segmen (sub set) atau event (Set E).  misalnya : jumlah kecelakaan mobil di atas terdiri dari segmen mobil pribadi & mobil penumpang umum.
Seberapa besar kemungkinan (probabilitas) risiko akan terjadi. Ada 5 (lima) kategori probabilitas risiko:
1.   Paling kecil kemungkinan terjadinya  (very rare)
2.   Jarang (rare)
3.   Mungkin (possible)
4.   Sangat mungkin (likely)
5.   Hampir pasti (almost certain).
Untuk menghitung secara cermat probabilitas dari kecelakaan mobil tersebut masing-masing Set E perlu diberi bobot.  Pembobotan tersebut biasanya didasarkan pada bukti empiris dari pengalaman masa lalu.  Misalnya :  untuk mobil pribadi diberi bobot 2, sedang untuk mobil penumpang umum diberi bobot 1, maka probabilitas dari kecelakaan mobil tersebut dapat dihitung dengan rumus:
a. bila tanpa bobot  :          P  (E)  =  E/S

b. bila dengan bobot :       P (E)  =                                            
          
Keterangan :         P (E)    =  probabilitas terjadinya event.
                             E          =  sub set atau event
                             S          =  sample space atau set
                             W        =  bobot dari masing-masing event
Contoh :
Dari catatan polisi diketahui jumlah kecelakaan mobil di Bandung selama tahun 2000 sebanyak 10.000 kali.  Dari jumlah tersebut, 1000 menimpa mobil pribadi dan 9000 menimpa mobil penumpang umum.
Dengan demikian probabilitas terjadinya kecelakaan mobil pribadi adalah :
a.  Tanpadibobot P (E)   = 1000/10.000 = 0,1 = 10 %
b.  Denganbobot P (E)   = 1,818  = 18,18 %

2.   Notional Risiko
           Diukur berdasarkan nilai eksposur (obyek yang rentan terhadap resiko).Contohnya, pengukuran risiko kredit dengan metode notional. Jika perusahaan meminjamkan uang kepada pihak lain senilai Rp 2 milyar, maka besarnya risiko kredit berdasarkan pendekatan notional adalah Rp 2 milyar.

3. Sensitivitas Risiko
           Diukur berdasarkan seberapa sensitif suatu eksposur (obyek yang rentan terhadap resiko) terhadap perubahan faktor penentu. Contoh paling populer adalah risiko aset keuangan atau sekuritas, yang diukur berdasarkan sensitivitas tingkat pengembalian (return) aset yang bersangkutan terhadap perubahan tingkat pengembalian pasar. Ukuran ini dikenal sebagai Beta Pasar. Contoh lain adalah degree of operating leverage (DOL), yang mengukur sensitivitas laba operasi terhadap perubahan penjualan. DOL digunakan sebagai ukuran risiko bisnis.
4.  Volatilitas Risiko
           Diukur berdasarkan seberapa besar nilai eksposur (obyek yang rentan terhadap resiko) berfluktuasi (tidak tetap). Ukuran yang umum adalah standar deviasi (penyimpangan). Semakin besar standar deviasi suatu eksposur, semakin berfluktuasi (tidak tetap) nilai eksposur tersebut, yang berarti semakin Beresiko eksposur atau aset tersebut.
5.  Pendekatan VaR ( value at risk )
           Risiko diukur berdasarkan kerugian maksimum yang bisa terjadi pada suatu aset atau investasi selama periode tertentu, dengan tingkat keyakinan (level of confidence) tertentu. Untuk mengukur risiko dengan pendekatan VaR, diperlukan data standar deviasi dan skor Z dari tabel distribusi normal. Contoh: diketahui standar deviasi dari suatu aset bernilai Rp 1 juta adalah 2,4%. Pada tingkat keyakinan 95%, skor Z-nya adalah 1,645. Maka besarnya risiko (dalam nilai Z) adalah 0,024 x 1,645 = 0,040. Jika nilai Z tersebut dikembalikan ke nilai awalnya menjadi 0,040 x Rp 1 juta = Rp 40 ribu.
6.  Matriks frekuensi dan signifikansi risiko
           Teknik pengukuran yang cukup sederhana (tidak terlalu melibatkan kuantifikasi yang rumit) adalah mengelompokkan risiko berdasarkan dua dimensi yaitu frekuensi (jumlah) dan signifikansi (meyakinkan). Terdapat 2 hal dalam proses tersebut yaitu :
a.    Mengembangkan standar risiko
b.    Menerapkan standar tersebut untuk risiko yang telah diidentifikasi.
7.      Analisis skenario
Kemampuan manajer/perusahaan untuk memprediksi apa yang akan terjadi, dan berapa besarnya kerugian yang diperoleh. Contoh : Teknik pengukuran berbeda tingkat kecanggihannya (tingkat kuantifikasi), dalam artian   beda tipe resiko beda juga tekhnik yang digunakan.

Berikut contoh tipe resiko dan teknik pengukurannya:
Tipe risiko
Definisi
Teknik pengukuran
Risiko pasar
Harga pasar bergerak kea rah yang tidak menguntungkan (merugikan)
Value at Risk  (VAR), stresstesting
Risiko kredit
Counterparty tidak bisa membayar kewajibannya  (gagal bayar) ke perusahaan
Credit rating, creditmetrics
Risiko perubahan tingkat bunga
Tingkat bunga berubah yang mengakibatkan kerugian pada portopolio perusahaan
Metode pengukuran jangka waktu, durasi
Risiko operasional
Kerugian yang terjadi melalui operasi perusahaan (misal system yang gagal, serangan teroris)
Matriks frekuensi dan signifikansi kerugian, VAR Operasional
Risiko kematian
Manusia mengalami kematian dini (lebih cepat dari usia kematian wajar)
Probabilitas kematian dengan table mortalitas
Risiko kesehatan
Manusia terkena penyakit tertentu
Probabilitas terkena penyakit dengan menggunakan table morbiditas
Risiko teknologi
Perubahan teknologi mempunyai konsekuensi negative terhadap perusahaan
Analisis skenario

4. Jenis Pengukuran Resiko

1.   Pengukuran Kegawatan Kerugian
Untuk mengetahui berapa besarnya nilai kerugian, yang selanjutnya dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap kondisi perusahaan, terutama kondisi finansialnya.
a.    Kemungkinan kerugian maksimum dari setiap peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian).
b.    Probalilitas kerugian maksimum dari setiap peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian ).
c.    Keseluruhan (aggregat) kerugian maksimum setiap tahunnya
2.      Pengukuran Frekuensi Kerugian
Untuk mengetahui berapa kali suatu jenis peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian) dapat menimpa suatu jenis objek yang bisa terkena peril (Suatu peristiwa (event) yang kejadiannya menimbulkan LOSS atau penyebab langsung kerugian) selama suatu jangka waktu tertentu, yang umumnya satu tahun. Maka yang perlu diperhatikan yaitu :
a.    Beberapa jenis kerugian yang dapat menimpa suatu objek.
b.    Beberapa jenis objek yang dapat terkena suatu jenis kerugian

Berdasarkan dimensi frekuensinya ada empat kategori kerugian :
a.       Almost nil (hampir nihil atau tidak ada)
b.      Slight (sedikit hampir tidak ada)
c.       Moderate (sedikit ada)
d.      Definite (pasti ada)
Dalam mengukur besarnya suatu risiko sebaiknya menggunakan ukuran Rupiah (satuan uang). Dari hasil pengukuran resiko tersebut maka kerugian yang menimpa seseorang atau perusahaan dapat dikategorikan dengan skala sebagai berikut: 
1 = Kerugian sangat kecil
2 = Kerugian kecil
3 = Kerugian menengah
4 = kerugian besar
5 = kerugian sangat besar
Pada setiap kejadian yang merugikan, biasanya ada dampak yang langsung dan dampak yang tidak langsung. Untuk mengukur kerugian langsung yang ditimbulkan oleh suatu kejadian yang merugikan ada beberapa konsep yang dapat digunakan, yaitu antaranya nilai perolehan. Selanjutnya untuk mengukur kerugian tidak langsung antara lain adanya tambahan biaya misalnya berupa biaya sewa dan berkurangnya pendapatan. Sebagian kerugian langsung sangat sulit untuk ditentukan.

5. Manfaat Pengukuran Resiko

Adapun manfaat pengukuran resiko yaitu:
a.    Untuk menentukan kepentingan relatif dari suatu risiko yang dihadapi.
b.    Untuk mendapatkan informasi yang sangat diperlukan oleh Manajer Risiko dalam upaya menentukan cara dan kombinasi cara-cara yang paling dapat diterima/paling baik dalam penggunaan sarana penanggulangan risiko.

C. Risiko Kematian

Manusia pasti akan menghadapi resiko kematian. Kematian itu sendiri merupakan sesuatu yang pasti dan lebih spesifik lagi akan menghadapi eksposur kematian sebelum waktunya (premature death) dan mengakibatkan konsekuensi negatif.
1.    Mengukur Probabilitas dan Kerugian dari kematian Awal
Untuk menghitung besarnya kerugian yang dihadapi, kita perlu menghitung probabilitas suatu peristiwa akan besarnya kerugian yang akan ditanggung (severity).
a.    Tabel Kematian
Probabilitas kematian awal bisa dihitung dengan menghitung tabel kematian (mortality table). Tabel tersebut menunjukkan probabilitas kematian dan bertahan hidup untuk kelompok umur tertentu, dan disajikan dengan format yang mudah dibaca.
b.    Menghitung Probabilitas Kematian Awal
Tabel kematian memberikan dasar untuk perhitungan probabilitas kematian lebih lanjut.

Usia
Jumlah Orang Hidup
Jumlah Kematian
Probabilitas Kematian
Probabilitas Bertahan Hidup
35
9.491.711
20.028
0,00211
0,99789
36
9.471.683
21.217
0,00224
0,99776
37
9.450.466
22.681
0,00240
0,99760
38
9.427.785
24.324
0,00258
0,99741
39
9.403.461
26.236
0,00279
0,99721
40
9.377.225
28.319
0,00302
0,99698
Sebagai contoh probabilitas seseorang yang berumur 35th akan meninggal 1 atau 5 tahun mendatang. Perhitungannya :

1q35 = (20.028) / 9.491.711 = 0,00211
5q35 = (20.028 + 21.217 + 22.681 + 24.324 + 26.236) / 9.491.711 = 0,01206

Sebagai alternatif peritungan probabilitas orang berumur 35th dan harapan hidup 1 atau 5 tahun mendatang adalah :
1P35 = (1000 – 2,11) / 1000 = 0,9979
5P35 = (1000 – (2,11 + 2,24 + 2,40 + 2,58 + 2,79)) / 1000 = 0,9879

c.    Eksposur Karena Kematian Awal
Kematian awal mengakibatkan konsekuensi negatif bagi pihak yang ditinggalkan. Konsekuensinya sebagai berikut :
1)      Eksposur yang dihadapi oleh keluarga
a)    Konsekuensi ekonomis, seperti kerugian akibat tidak bisa memperoleh sumber penghasilan.
Beberapa pendekatan kebutuhan yang harus dicukupi oleh orang yang meninggal tersebut :
1)   Kebutuhan untuk menjaga standar hidup yang ada
2)   Kebutuhan untuk membesarkan anak

b)    Konsekuensi emosional, lebih sulit diukur daripada nilai ekonomisnya. Kebutuhan akan dihitung berdasar konsekuensi yang bisa dihitung nilai ekonomisnya. Misalkan suatu keluarga menghabiskan Rp 5jt perbulan atau Rp 60jt pertahun untuk kebutuhan hidupnya. Misalkan kebutuhan tersebut diasumsikan konstan. Misalkan kebutuhan tersebut dipenuhi oleh seorang ayah sepenuhnya yang berusia 40th. Kemudian ayah tersebut meninggal dunia, padahal usia pengaharapan hidup adl 70th. Misalkan tingkat bunga yang relevan adalah 15% (dipakai sabagai discount rate untuk perhitungan present value), maka nilai kebutuhan hidup yang harus ditanggung ayah tersebut adl:

PV = 60jt / (1+0,15)+ ....................... + 60jt / (1+0,15)30 = 393.958.778
Ket :   Keluarga tersebut bisa membeli asuransi dengan nilai pertanggungan sekitar Rp 390jt untuk menjaga konsekuensi negatif kematian ayah keluarga tersebut.

d.   Eksposur yang dihadapi bisnis
Beberapa kerugian yang diderita oleh perusahaan jika orang kunci meninggal tidak mudah. Tetapi kita bisa menggunakan pendekatan jumlah kerugian yang akan ditanggung perusahaan.
Misalnya : Pak Hardo sebagai juru masak bisa bekerja 10th lagi. Rumah makan bisa menghasilkan omset sebesar Rp100jt pertahun dengan laba sebesar Rp20jt pertahun dan biaya modal internal rumah makan 20%. Jika Pak Hardo meninggal diperkiran omset turun separuhnya menjadi Rp75jt pertahun.
                 Kerugian pertahun = Rp100jt – Rp75jt = Rp25jt pertahun. Present value dari kerugian  yang diderita jika Pak Hardo meninggal dengan biaya modal 20% dipakai sebagai discount rate adalah :
Kerugian = 25jt / (1+0,2)+ ............... + 25jt  / (1+0,2)10 = 104.811.802

Ket : Kepergian Pak Hardo mengakibatkan kerugian sekitar Rp104jt. Rumah makan tersebut bisa membeli asuransi dengan nilai pertanggungan sebesar Rp104jt.

2.   Interaksi Pribabilitas Kematian Awal dengan Severity Kerugian : Aplikasi untuk Penentuan Premi Asuransi

Kerugian yang diharapkan merupakan perkalian antara probabilitas kejadian dengan besarnya kerugian yang terjadi (severity).
Contoh : misalkan ada seorang pria berusia 70th. Jika meninggal lima tahun mendatang (usia 75th), kerugian yang akan ditanggung keluarga adalah Rp 100jt. Nilai sekarang dari kerugian yang diharapkan.
Dengan menggunakan tabel kematian CSO 1980 (lampiran) kita bisa menghitung probabilitas kematian orang tersebut :
70q75 = (6.274.160 – 4.898.907) / 6.274.160 = 0,219

Kerugian yang diharapkan merupakan perkalian antara probabilitas dengan severity, yang bisa dilihat sebagai berikut :
Kerugian yang Diharapkan = 0,219 x Rp100jt = Rp 21,9jt

Karena peristiwa terjadi lima tahun dari sekarang maka kita perlu mencari nilai sekarang dari kerugian tersebut. Misal tingkat bunga yg relevan adalah 10%, maka nilai sekarang dari kerugian tersebut :
Nilai sekarang kerugian = Rp21,9jt / (1+0,1)5 = Rp13,5jt
Dengan menggunakan prinsip yang sama, perusahaan asuransi bisa menghitung premi yang dibebankan kepada nasabahnya. Pada prinsipnya, premi yang diterima sama dengan tanggungan yang akan dibayarkan kepada nasabah, sebagai berikut ini :

PV Premi yang Diharapkan = PV Tanggungan yang Diperkirakan
Misalkan perusahaan asuransi menawarkan asuransi kepada pria berusia 60th, asuransi selama 10th. Premi asuransi yang diterima oleh perusahaan asuransi tersebut adalah Rp3jt pertahun selama 10x. Premi tersebut dibayarkan di awal tahun. Jika orang tersebut meninggal dalam masa asuransi tersebut, dia terbebas dari kewajiban membayar premi tersebut. Misalkan tingkat bunga (discount rate atau biaya modal) yang relevan adalah 10%. Nilai sekarang dari premi tersebut bisa dilihat pada tabel berikut ini

Usia (Awal Tahun)
Premi
Probabilitas Kematian
Probabilitas Bertahan Hidup
PV Factor (10%)
Premi yg Diharapkan
PV Premi yg Diharapkan
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)=(2)x(4)
(7)=(6)x(5)
60
3.000.000
0,0168
1
1
3.000.000
3.000.000
61
3.000.000
0,017258
0,98392
0,909091
2.951.760
2.683.418
62
3.000.000
0,01855
0,966662
0,826446
2.899.986
2.396.683
63
3.000.000
0,019967
0,948112
0,751315
2.844.335
2.136.991
64
3.000.000
0,021477
0,928145
0,683013
2.784.434
1.901.806
65
3.000.000
0,023047
0,906667
0,620921
2.720.002
1.688.907
66
3.000.000
0,024609
0,88362
0,564474
2.650.860
1.496.341
67
3.000.000
0,026148
0,859011
0,513158
2.577.033
1.322.426
68
3.000.000
0,027643
0,832863
0,466507
2.498.588
1.165.610
69
3.000.000
0,029125
0,80522
0,424098
2.415.660
1.024.476
Jumlah
18.816.658

Probabilitas kematian (3), dihitung sebagai jumlah kematian pada usia tersebut dibagi dengan jumlah orang hidup pada awal usia tersebut (dlm hal ini usia 60). Untuk usia 60th, jumlah orang yang masih hidup adalah 8.084.266. Sebagai contoh, untuk usia 60 dan  61, probabilitas kematian dihitung berikut ini :
Usia 60 = (129.995 / 8.084.266) = 0,01608
Usia 61 = (139.518 / 8.084.266) = 0,017258

Probabilitas bertahan hidup adalah 1 – (probabilitas kematian) =
Prob. Bertahan Usia 61 = 1 – 0,01608 = 0,98392
Premi yang diharapkan merupakan perkalian antara probabilitas bertahan hidup dengan nilai premi yang dibayarkan. Total nilai sekarang dari premi yang diharapkan sebesar Rp18,8jt.

Besar tanggungan yang bersedia diberikan oleh perusahaan tersebut misalnya nilai tanggungan adalah Y, yang besarnya sama setiap tahunnya selama 10th mendatang dan dibayarkan jika orang yang diasuransikan meninggal dunia. Rumus :
( Y x (probabilitas meninggal usia 60 akhir tahun) x (PV Factor 1th) + ............. + ( Y x (probabilitas meninggal usia 69 akhir tahun) x (PV Factor 10th)) = 18.816.657
18.816.657 adalah PV premi yang diharapkan yang akan diterima oleh perusahaan asuransi. Nilai Y bisa dihitung jika kita mengetahui nilai probabilitas kematian dan PV Factor untuk setiap tahunnya selama 10th mendatang.

D. Risiko Kerusakan Property dan Kewajiban (Liabilities) 

1. Cakupan Properti
Risiko yang mungkin terjadi atas properti (harta benda) mencakup banyak hal seperti kebakaran, banjir, perusakan, dan lainnya. Dalam perusahaan asuransi, risiko atas harta benda biasanya masuk dalam kategori asuransi umum, seperti terlihat dari penawaran produk salah satu perusahaan asuransi umum.

   Cakupan Asuransi Umum dan Properti diantaranya :
  1. Asuransi Harta Benda ( Property Insurance )
  2. Asuransi Rekayasa ( Engineering Insurance )
  3. Asuransi Pengangkutan ( Marine Cargo Insurance )
  4. Asuransi Rangka Kapal ( Marine Hull Insurance )
  5. Asuransi Usaha Minyak & Gas Bumi ( Oil & Gas Insurance )
  6. Asuransi Pesawat ( Aviation Insurance)
  7. Asuransi Satelit ( Space Insurance )
  8. Asuransi Kecelakaan Diri ( Personal Accident Insurance )
  9. Asuransi Tanggung Gugat (  Liability Ainsurance )
  10. Asuransi Uang ( Money Insurance )
  11. Asuransi Kebakaran ( Burglary Insurance )

Harta benda yang dibicarakan mencakup banyak kategori sperti bangunan, perabot rumah tangga, perlengkapan rumah, mesin, barang dagangan, persediaan bahan baku, dsb.
 Kategori dapat dikelompokkan menjadi :
a.    Properti riil, dapat didefinisikan sebagai tanah, bangunan yang berdiri diatasnya, atau tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut.
b.    Properti personal, dapat didefinisikan sebagai apa saja yang dimiliki selain properti riil. Contoh : mobil, pakaian, komputer, uang, dll.

Tidak semua harta benda bisa diasuransikan. Biasanya asuransi meng-cover benda yang kelihatan ( tangible assets ), sedangkan benda tak kelihatan ( intangible assets ), seperti copy rights atau nama baik tidak masuk dalam cakupan asuransi.
   Alternatif lain untuk melihat eksposur yang dihadapi oleh harta benda antara lain :
a.       sumber fisik, mencakup kekuatan alam, seperti api, badai, ledakan yang bisa menghancurkan harta benda.
b.      sumber sosial, mencakup kejadian yang muncul karena dorongan sosial, sebagai contoh kerusuhan yang terjadi yang berakibat pada perusakan properti.
c.       sumber ekonomi, mencakup kekuatan ekonomi yang mengakibatkan kerusakan, sebagai contoh perubahan model menyebabkan barang stok lama menjadi kehilangan nilainya.

2.    Kerugian Yang Dialami Harta Benda
Yang terjadi bisa diklasifikasikan :
a.  Kerugian langsung terjadi jika kejadian buruk mempunyai dampak langsung terhadap properti. Sebagai contoh : suatu kebakaran menghancurkan bangunan yang merupakan kerugian langsung. Kerugian tidak langsung akibat kebakaran tersebut antara lain kegiatan bisnis dan perkantoran terganggu terpaksa perusahaan mengeluarkan biaya ekstra untuk membangun fasilitas perkantoran darurat.
b. Kerugian tidak langsung bisa jadi mempunyai elemen waktu jika waktu dilibatkan dalam perhitungan kerugian tersebut. Sebagai contoh, jika karena kebakaran, bangunan tidak bisa disewakan sampai rekonstruksi selesai dilakukan. Kerugian tersebut akan berhubungan positif dalam jangka waktu perbaikan. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan, semakin besar kerugian yang dialami perusahaan.

3.    Metode Penilaian Kerugian Aset Fisik
a.    Nilai ( Harga ) Pasar
Harga pasar adalah harga yang terbentuk melalui mekanisme pasar. Dalam mekanisme tersebut ada pihak yang ingin menjual dan ada pihak yang ingin membeli. Kekuatan demand dan supply membentuk harga keseimbangan yang menjadi harga pasar. Penilaian properti riil dengan menggunakan metode harga pasar bisa dilakukan dengan membandingkan harga pasar aset yang mirip yang pernah diperdagangkan.
                  Harga pasar biasanya mencerminkan biaya kesempatan ( opportunity cost ) dari aset tersebut. Karena itu teknik dengan menggunakan kesempatan memperoleh pendapatan yang hilang bisa dilakukan. Sebagai contoh, kita membeli obligasi atas unjuk kupon bunganya dan nilai nominal Rp 1jt, kupon bunga 20%, jangka waktu 5th. Untuk mengklaim kupon bunganya dan nilai nominalnya, kita harus bisa menunjukkan sertifikat obligasinya. Misalkan 1th kemudian sertifikat tersebut dicuri sehingga kita tidak memiliki lagi obligasi tersebut. Kerugian akibat hilangnya obligasi tersebut dengan discount rate 15%, maka perhitungan PVnya adalah :
PV = (200.000)/(1+0,15)+ ……… + (1.200.000)/(1+0,15)4 = 1.142.749

Penilain properti riil dengan menggunakan metode harga pasar lebih sulit dibandingkan untuk properti personal. Untuk properti personal, karena lebih likuid, harga-harga biasanya lebih mudah diperoleh.

b.    Replacement Cost ( baru )
Dapat dilakukan dengan melihat biaya yang diperlukan untuk mengganti barang yang rusak dengan barang baru yang sama. Misalnya kita punya bangunan yang terbakar habis. Dengan menggunakan teknik replacement cost, kita akan menghitung berapa biaya yang diperlukan untuk membangun kembali bangunan tersebut agar sama seperti sbelum terbakar. Manajer risiko bisa menggunakan bantuan pihak luar ( misal appraisal )  untuk menaksir replacement cost tersebut.

c.     Replacement Cost Baru dikurangi Depresiasi
Jika teknik ini digunakan, manajer menghitung replacement cost kmudian dikurangi dengan depresiasi atau angka yang mencerminkan turunnya nilai ekonomis. Argumen yang mendasari teknik tersebut adalah nilai suatu property yang sebenarnya adalah nilai property tersebut dikurangi dengan depresiasi atau penurunan nilai karena sudah digunakan atau karena berjalannya waktu. Dalam dunia asuransi, istilah tersebut dikenal dengan actual cash value ( ACV ), dan sering digunakan sebagai patokan untuk membayar tanggungan. Sebagai contoh, jika suatu bangunan yang mempunyai nilai penggantian ( replacement cost ) Rp100jt, tetapi sudah 20th dibangun. Jika bangunan tersebut terbakar, perusahaan asuransi barangkali tidak akan membangun kembali bangunan tersebut.Sebagai gantinya, perusahaan asuransi akan mengurangi nilai tersebut dengan depresiasi, dan memberikannya dalam bentuk kas.

E. Pandangan Asuransi dan Penentuan Premi

1. Pengertian Asuransi

Asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (substitusi) kerugian-kerugian besar yang belum pasti.[3]
Adapun pengertian asuransi menurut Mark R. Greene, Asuransi adalah institusi atau organisasi ekonomi yang bertujuan mengurangi resiko dengan menggabungkan diri dalam satu manajemen dan kelompok objek di dalam lingkup yang lebih rinci.
Pengertian Asuransi dalam UU No. 40 Tahun 2014 tentang perasuransian, Asuransi merupakan perjanjian diantara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dengan pemegang polis, yang menjadi dasar atau acuan bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi dengan imbalan untuk :
a. memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian yang dideritanya, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan maupun tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertaggung / pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti tersebut; atau
b. memberikan pembayaran dengan acuan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidup si tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.
            Dari pengertian asuransi di atas, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Asuransi adalah suatu alat untuk mengurangi risiko yang melekat pada sistem perekonomian, dengan cara menggabungkan sejumlah unit-unit yang terkena risiko yang sama atau terkena resiko yang hampir sama, dalam jumlah yang cukup besar agar probabilitas kerugiannya dapat diprediksi dan bila kerugian yang diprediksikan terjadi, maka akan dibagi secara proposional kepada semua pihak dalam gabungan itu.

2. Tujuan Asuransi

Berbicara mengenai Tujuan asuransi, tujuan asuransi meliputi tujuan pengalihan resiko, tujuan pembayaran ganti kerugian, tujuan pembayaran santunan, tujuan kesejahteraan anggota. Untuk lebih jelasnya mengenai tujuan asuransi akan dibahas di bawah ini.
a.    Tujuan Asuransi untuk Pengalihan Resiko
Tujuan Asuransi yang paling utama ialah untu pengalihan resiko. Dalam teori pengalihan resiko, tertanggung menyadari ada ancaman bahaya terhadapp harta kekayaan miliknya atau terhadap jiwanya. Jika suatu hari bahaya tersebut menimpa harta kekayaan atau jiwanya, maka dia akan menderita kerugian atau korban jiwa atau cacat raga akan mempengaruhi perjalanan hidup seseorang atau ahli warisnya. Tertanggung dalam hal ini sebagai pihak yang terancam bahaya merasa berat memikul beban resiko yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Untuk mengurangi atau menghilangkan beban resiko tersebut, maka pihak tertanggung berupaya mencari jalan kalau ada pihak lain yang bersedia mengambil alih beban resiko ancaman bahaya dan dia sanggup membayar kontra prestasi yang disebut premi. Dalam hal ini tertanggung mengadakan asuransi dengan tujuan mengalihkan resiko yang mengancam harta atau jiwannya. Dengan membayar sejumlah premi kepada perusahaan asuransi (penanggung), sejak itu pula resiko beralih kepada si penanggung. Apabila sampai berakhirnya jangka waktu asuransi tidak terjadi peristiwa yang merugikan, maka penanggung beruntung memiliki dan menikmati premi yang telah diterimanya dari tertanggung.
b.    Tujuan Asuransi untuk Pembayaran Ganti Rugi
Tujuan asuransi yang berikutnya adalah pembayaran ganti rugi. Dalam hal ini terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka tidak ada masalah terhadap resiko yang ditanggung oleh penanggung. Dalam praktiknya, bahaya yang mengancam itu tidak senantiasa sungguh-sungguh akan terjadi. Ini merupakan kesempatan baik bagi penanggung mengumpulkan premi yang dibayar oleh beberapa tertanggung yang mengikatkan diri kepadanya. Jika pada suatu ketika sunguh-sungguh terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka kepada si tertanggung yang bersangkutan akan dibayarkan ganti kerugian seimbang dengan jumlah asuransinya. Dalam praktiknya, kerugian yang timbul tersebut bersifat sebagian, tidak semuanya berupa kerugian total. Dengan demikian, tertanggung mengadakan asuransi yang bertujuan untuk memperoleh pembayaran ganti kerugian yang sungguh-sungguh dideritanya.
c.    Tujuan Asuransi untuk Pembayaran Santunan
Tujuan Asuransi yang berikutnya yaitu untuk pembayaran santunan. Asuransi kerugian dan juga asuransi jiwa diadakan berdasarkan perjanjian bebas (sukarela) antara penanggung dan tertanggung. Akan tetapi, undang-undang mengatur asuransi yang bersifat wajib, artinya tertanggung terikat dengan si penanggung karena perintah undang-undang bukan karena perjanjian. Asuransi jenis ini biasa disebut sebagai asuransi sosial. Asuransi sosial bertujuan melindungi masyarakat dari ancaman bahaya kecelakaan yang mengakibatkan kematian atau cacat tubuh. Dengan membayar sejumlah konstribusi (semacam premi), maka si tertanggung berhak memperoleh perlindungan dari ancaman bahaya.
Tertanggung yang membayar konstribusi tersebut adalah mereka yang terikat pada suatu hubungan hukum tertentu yang ditetapkan undang-undang, misalnya hubungan kerja, penumoang anggutan umu. Apabila mereka mendapat musibah kecelakaan dalam pekerjaannya atau selama angkutan berlangsung, mereka (ahli warisnya) akan memperoleh pembayaran santunan dari penanggung BUMN, yang jumlahnya telah ditetapkan oleh undang-undang adalah untuk melindungi kepentingan masyarakat dan mereka yang terkena musibah diberi santunan sejumlah uang.
d.   Tujuan Asuransi untuk Kesejahteraan Anggota
Tujuan asuransi yang terakhir yaitu untuk kesejahteraan anggotanya. Apabila beberapa orang berhimpun dalam suatu perkumpulan, maka perkumpulan tersebut berkedudukan sebagai si penanggung, sedangkan anggota perkumpulanlah yang berkedudukan tertanggung. Jika terjadi peristiwa yang mengakibatkan kerugian atau kematian bagi anggota (tertanggung), maka perkumpulan akan membayar sejumlah uang kepada anggota (tertanggung) yang bersangkutan. Prof Wirjono Prodjodikoro menyebut asuransi seperti ini mirip dengan perkumpulan koperasi. Asuransi ini ialah asuransi yang saling menanggung atau asuransi usaha bersama yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan anggota.

3. Bentuk-bentuk Asuransi[4]

            Bentuk-bentuk Asuransi dapat digolongkan sebagai berikut :
  1. Asuransi Kerugian (Asuransi Umum), yaitu mengenai hak milik, kebakaran dan lain-lain.
  2. Asuransi Varia (marine insurance), meliputi asuransi kecelakaan, asuransi mobil dan pencurian.
  3. Asuransi Jiwa (Life insurance) yaitu menyangkut kematian, cacat dan lain-lain.

John H. Magee dalam bukunya, General Insurance (Bab 2) mengklasifikan asuransi sebagai berikut :[5]
1.      Jaminan Sosial (Sosial Insurance)
Jaminan sosial merupakan asuransi wajib, karena itu setiap orang atau penduduk harus memilikinya. Jaminan ini bertujuan supaya setiap orang mempunyai jaminan untuk hari tuanya (old age). Bentuk ini dilaksanakan dengan paksa , misalnya dengan memotong gaji pegawai sekian persen setiap bulan (umpamanya 10%). Contoh : jika seseorang sakit harus dijamin pengobatannya, kecelakaan, invalid, mencapai umur ketuaan, atau hal-hal yang menyebabkan timbulnya pengangguran.
2.      Asuransi sukarela (Voluntary Insurance)
Bentuk asuransi ini dijalankan secara sukarela (Voluntary), jadi tidak dengan paksaan seperti jaminan sosial. Jadi setiap orang bisa mempunyai atau tidak mempunyai asuransi sukarela ini.
Asuransi sukarela dapat dibagi dalam dua jenis yakni :
a.       Government insurance , yakni asuransi yang dijalankan oleh pemerintah atau negara. Misalnya jaminan yang diberikan kepada parjurit yang cacat sewaktu peperangan. Di Indonesia misalnya jaminan bagi kaum veteran.
b.      Commercial Insurance, yakni asuransi yang bertujuan untuk melindungi seseorang atau keluarga serta perusahaan dari resiko-resiko yang bisa mendatangkan kerugian. Tujuan dari perusahaan asuransi disini ialah, komersial dan dengan motif keuntungan (profit motive).
Commercial Insurance dapat digolongkan pula kepada :
1)        Asuransi Jiwa (personal life insurance)
Asuransi jiwa bertujuab untuk memberikan jaminan kepada seseorang atau keluarga yang disebabkan oleh kematian, kecelkaan, serta sakit. Contoh : PT. Asuransi Jiwa Sraya, Asuransi Jiwa Bumi Putera, Asurnasi Jiwa Dharma Nasional, dan lain-lain.
2)        Asuransi Kerugian (Property Insurance)
Bentuk ini sama dengan asuransi umum yang bertujuan memberikan jamnian kerugian yang disebabkan oelh kebakaran, pencurian, asuransi laut dan lain-lain. Contoh : PT. Reasuransi Umum Indonesia , PT. Asuransi Kerugian dan lain-lain.

E.  Premi Asuransi

Berbicara mengenai premi asuransi, dalam asuransi dikenal yang namanya premi asuransi. Dalam asuransi jiwa yang harus diperhatikan ialah penentuan tarif (rate making), karena hal tersebut akan menentukan besarnya premi yang akan diterima. Tarif atau premi yang ditetapkan harus bisa menutupi claim (risiko) serta biaya-biaya asuransi dan sebagian dari jumlah penerimaan perusahaan (keuntungan).
 1. Premi Asuransi Unsur Penting
Dalam pasal 246 KUHD terdapat rumusan sebagai berikut : “dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi”.
Berdasarkan rumusan tersebut, dapat diketahui bahwa premi adalah salah satu unsur penting dalam asuransi karena merupakan kewajiban utama yang wajib dipenuhi oleh tertanggung kepada penanggung. Dalam hubungan hukum asuransi ini, penanggung menerima pengalihan resiko dari tertanggung dan tertanggung membayar sejumlah premi sebagai imbalannya. Namun jik premi tidak dibayar, asuransi tersebut dapat dibatalkan atau setidak-tidaknya asuransi tidak akan berjalan. Premi asuransi ini harus dibayar lebih dahulu oleh tertanggung karena tertanggunglah pihak yang berkepentingan.
Premi asuransi merupakan syarat mutlak untuk menetukan perjanjian asuransi dilaksanakan atau tidak. Kriteria premi asuransi yaitu :
a.    dalam bentuk sejumlah uang,
b.    dibayar lebih dahulu oleh si tertanggung,
c.    sebagai imbalan pengalihan resiko,
d.   perhitungan berdasarkan persentase terhadap nilai resiko yang dialihkan.
 2. Jumlah Premi Asuransi Yang Harus Dibayar
Penetapan tingkat premi asuransi harus didasarkan pada perhitungan analisis resiko yang sehat. Besarnya  jumlah premi asuransi yang harus dibayar oleh tertanggung ditentukan berdasarkan penilaian resiko yang dipikul oleh si penanggung. Dalam praktiknya penetapan besarnya jumlah premi itu diperjanjikan oleh tertanggung dan penggung secara layak dan dicantumkan dalam polis. Besarnya jumlah premi asuransi dihitung sedemikian rupa jumlahnya, sehingga dengan penerimaan premi dari beberapa tertanggung, maka si penanggung berkemampuan membayar klaim ganti kerugian kepada tertanggung yang terkena peristiwa yang menimbulkan kerugian.
Dalam jumlah premi yang harus dibayar oleh tertanggung juga termasuk biaya yang berkenaan dengan pengadaan asuransi tersebut. Rincian yang dapat dikalkulasikan dalam jumlah premi asuransi adalah :
a.    jumlah persentase dari jumlah yang diasuransian.
b.    jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh si penanggung, misalnya biaya materai, biaya polis.
c.    Kurtase untuk pialang jika asuransi tersebut diadakan melalui pialang.
d.   Keuntungan bagi penanggung dan juga jumlah cadangan.
Dalam penentuan tarif asuransi, ada tiga elemen penting yang harus diperhatikan di dalam mengkalkulasi premi itu, yakni :[6]
1.      Tabel Kematian (mortality tables)
Daftar tabel kematian berguna untuk mengetahui besarnya claim kemungkinan timbulnya kerugian yang dikarenakan kematian, serta meramalkan berapa lama batas waktu (umur) rata-rata seorang bisa hidup.
Secara statistik bisa dihitung, sebab banyak menggunakan data matematis. Jadinayng diartikan dengan tabel kematian ialah : “the mortality tables in used in rate computation as a basis for as a basis for predicting the probable amount of future claims.”
Untuk melihat contoh tabel tersebut diatas dapat kita lihat seperti apa yang tertera dibawah ini, misalnya untuk menghitung umur rata-rata orang meninggal dalam satu group atau satu daerah tertentu.
The average age of death of the groups

Number of dying
Age of death
Agregate age
551
x 97,5
53,723
329
x 98,5
32,406
125
x 99,5
12,437
1005
Total
98.566

“The average age of death of the group ....  = 98.08
            Dengan jalam demikian maka ditentukan berapa besarnya tingkat tarif asuransi,dengan mengambil dasar perhitungan rata-rata orang meninggal pada umur 98 tahun.
            Mortality tables banyak macamnya, diantara adalah :
a.    General mortality tables
Tabel ini berdasarkan pada statistik penduduk (population statistics)
b.    Basic mortality tables
Bentuk ini biasanya didasarkan pada pengalaman masa lampau guna melihat berapa besarnya kematian untuk tahun-tahun sebelumnya.
c.    Select mortality tables
Bentuk ini melukiskan tingkat kematian tahun-tahun terakhir diantara satu kelompok dimana kita seleksi antara yang masih hidup.
d.    Ultimate mortality tables
Pada jenis ultimate melukiskan the rate of mortality at various age for lives beyond the selected period.
2.      Penerimaan bunga (Interest)
Untuk penetapan tarif, perhitungan bunga pun arus dikalkulasi didalamnya. Bunga merupakan sebagian dari keuntungan perusahaan, sebab didalam pembayaraan premi pun unsur bunga ikut dihitung.
3.      Biaya-biaya asuransi (cost of insurance)
Biaya-biaya asuransi harus ikut dikalkulasi pada penentuan premi/tarif asuransi. Adapun jenis biaya-biaya tersebut terdiri dari beberapa macam, yakni :
a.       Biaya penutupan asuransi , yaitu :
1)      Biaya komisi, inpeksi
2)      Biaya dinas luar
3)      Biaya advertensi, reklame dan sales promotion
4)      Biaya pembuatan polis (biaya administrasi, tik, kertas, dan lain-lain)
b.      Biaya pemeliharaan
Umumnya perhitungan biaya ditetapkan berdasarkan jumlah tertentu dari yang diasuransikan.
c.       Biaya-biaya lainnya
Seperti biaya incasso (biaya penagihan) dan excasso ikut pula diperhitungkan.
Dapat disimpulkan dalam klasifikasi biaya tarif asuransi/premi tidak sama, tergantung pada sifat, besar serta jenis perusahaan yang bersangkutan.
 3. Premi Restorno
Premi asuransi yang teah dibayar oleh tertanggung kepada penanggung dapat dituntut pengembaliannya, baik itu seluruhnya maupun untuk sebagian jika asuransi gugur atau batal, jika tertanggung telah bertindak dengan itikad baik. Premi yang harus dibayar kembali oleh penanggung disebut premi restorno. Pada premi restorno harus dipenuhi syarat bahwa penanggung tidak menghadapi bahaya. Dalam pasal 281 KUH Dagang menekankan pada syarat bahwa asuransi gugur atau batal bukan karena kesalah an tertanggung dan juga bukan karena itikad jahat tertanggung, tetapi disebabkan karena penanggung tidak menghadapi bahaya. Dalam hal ini sudah selayaknya premi yang sudah dibayar oleh tertanggung itu dikembalikan oleh penanggung. Hal ini sejalan dengan asas keseimbangan dan rasa keadilan.


  

BAB III

PENUTUP

A.KESIMPULAN


1. Identifikasi Risiko adalah usaha untuk menemukan atau mengetahui resiko-resiko yang mungkin timbul dalam kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau perorangan. Risiko yang diidentifikasi merupakan kejadian yang tidak pasti, yang mungkin terjadi di amsa depan, yang dapat mengancam pencapaian tujuan.
2. Metode yang digunakan dalam mengidentifikasi risiko diantaranya adalah Analisis data historis, pengamatan dan survey, pengacuan (benchmarking)serta pendapat ahli.
3. Dalam mengukur risiko, ada beberapa teknik yang daat dilakukan yakni diantaranya :
a.  Pengukuran resiko dengan distribusi probabilitas (kemungkinan)
b. Notional risiko
c. Sensitivitas risiko
d. Volatilitas risiko
e. Pendekatan VaR (value at risk)
f. Matriks frekuensi dan signifikansi risiko
g. Analisis skenario
4. Manusia pasti akan menghadapi resiko kematian. Kematian itu sendiri merupakan sesuatu yang pasti dan lebih spesifik lagi akan menghadapi eksposur kematian sebelum waktunya (premature death) dan mengakibatkan konsekuensi negatif.
5. Risiko yang mungkin terjadi atas properti (harta benda) mencakup banyak hal seperti kebakaran, banjir, perusakan, dan lainnya. Dalam perusahaan asuransi, risiko atas herta benda biasanya masuk dalam kategori asuransi umum.
6. Asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (substitusi) kerugian-kerugian besar yang belum pasti.
7. Dalam asuransi jiwa yang harus diperhatikan ialah penentuan tarif (rate making), karena hal tersebut akan menentukan besarnya premi yang akan diterima. Tarif atau premi yang ditetapkan harus bisa menutupi claim (risiko) serta biaya-biaya asuransi dan sebagian dari jumlah penerimaan perusahaan (keuntungan).
8. Ada beberapa elemen penting yang harus diperhatikan dalam mengkalkulasi tarif asuransi/premi, diantaramya :
a. Tabel kematian
b. Penerimaan bunga (interest)
c. Biaya-biaya asuransi (cost of insurance)




DAFTAR PUSTAKA


Salim, Abbas. 2003. Asuransi dan Manajemen Risiko. Jakarta : Rajarafindo Persada




[1]  Abbas Salim, Asuransi dan Manajemen Risiko, Rajarafindo Persada, Jakarta, Thn 2003.
[2] Ibid

[3] Abbas Salim, Asuransi dan Manajemen Risiko, Rajarafindo Persada, Jakarta, Thn 2003. Hlm. 1
[4] Abbas Salim, Asuransi dan Manajemen Risiko, Rajarafindo Persada, Jakarta, Thn 2003. Hlm. 1-2
[5] Ibid. Hlm. 2-3
[6] Abbas Salim, Asuransi dan Manajemen Risiko, Rajarafindo Persada, Jakarta, Thn 2003. Hlm. 42-45

Labels: Kuliah

Thanks for reading Manajemen Risiko - IDENTIFIKASI RISIKO, RISIKO KERUSAKAN PROPERTY, RISIKO KEMATIAN, PANDANGAN ASURANSI DAN PREMI. Please share...!

0 Komentar untuk "Manajemen Risiko - IDENTIFIKASI RISIKO, RISIKO KERUSAKAN PROPERTY, RISIKO KEMATIAN, PANDANGAN ASURANSI DAN PREMI"

Back To Top