Apakah Anda Menyukainya?

Search This Blog

Sepilihan Puisi















Pada postingan kali ini kita akan sedikit membumikan beberapa puisi yang dirasa sangat cocok untuk menemani secangkir kopi dirumah, karena kali ini kita harus mematuhi kebijakan pemerintah untuk tetap stay #dirumahaja. sepilihan puisi ini adalah karya Ajiutomo. Selamat membaca, tetep literasi ya.





Memoir-memoir Kecil
Dimatamu mengalir lagi detak puisi
Kumpulan kenangan yang kita rangkai
Kisahnya adalah kau dan aku
Aku adalah kau
Kau adalah waktu
Aku adalah kau
Kau adalah sesuatu
Aku adalah kau
Kau adalah seisi puisi itu, kekasih
2020



Suara Anak-anak SD
Suara itu seperti aku dulu
Suara kecil yang merengek ingin tahu
Pada masanya suara itu tidak dihitung, tidak ditimbang
Tidak pula diabaikan, suara kecil itu utama—penyangga
Suara itu, suara akar pohon-pohon kehidupan
Suara sekaligus suar-suar keadaan
2020



Kepada Buku Yang Telah Selesai Kubaca
Sepasang kata merangkai kita dalam rajutan paragraf buku itu
Dan telah kutulis sebuah catatan sederhana tentang kerinduan
Sebelum angin jatuh dalam pelukan masing-masing

Kepada buku yang telah selesai kubaca
Sepasang kata merangkai kita
Mengudara bersama

2019

Ada Puisi Yang Ingin Lahir di Jakarta kali Ini
Ada sebuah kota yang tak tenang dalam kepalanya.
Ada sebuah pagi dan keras hari yang ditunggu untuk kembali atau pergi.
(kutipan puisi Erich Langobelen, Antologi)

Dan merenunglah kau didepan asap rokok itu didepan toko itu
Kepada hari yang telah sayup pada cakrawala
Entah, mungkin kita tak bisa saling menolong atau saling menyapa
Menatap saja kita tak sudi tak peduli
Dan barangkali jejakku membekas pada kota ini

Ada puisi yang ingin lahir disini
Di ciputat, yang selalu padat keringat mahasiswa UIN itu
Apakah kita seolah tidak tahu bahwa esok merekalah yang berkuasa
Mungkinkah mereka tahu, kita harap mereka sadar karena tahu
Orang seperti kita yang berharap ilusi disudahi di kota ini

Ada sajak yang ingin lahir di jakarta ini
Kali ini
Kita berdoa
Semoga saja

2019



Ketika Puisi Cinta Adalah Sampah
Dan penulisnya pengecut
Yang lebih rendah dari sampah
2020







Ajitio Puspo Utomo
Lahir dikota cirebon pada tanggal 27 mei, pemilik akun instagram @ajiutomo_nji dan juga facebook @Aji utomo

Pernah menulis buku puisi berjudul “terbawa tiupan angin” sekarang ingin menyelesaikan studinya pada salah satu perguruan tinggi di cirebon doakan saja.

post by: Ajiutomo
Menulis Itu Mudah ?

Menulis Itu Mudah ?


Menulis- pada dasarnya salah satu kegiatan yang tanpa sadar sudah kita lakukan setiap hari. Mulai dari pagi hingga malam, di awali dari balas pesan, update status, mencatat hutang-piutang, catatan belanja, saat belajar, bahkan hingga mager mageran di kamar dengan gadgetnya yang pastinya.

Tidak dapat di pungkiri bahwa, kegiatan ini merupakan kebutuhan spontan yang mengolah kata dan penalaran.

Semudah itukah menulis?

Jawabannya adalah iya. Sebab, dalam menulis sudah kita pelajari semenjak di bangku Sekolah Dasar (SD) bahkan semenjak masih belia pun sudah familiar dengan pensil maupun bulpoin yang di kasih oleh orang tua dan mencorat coret dinding rumah.
Kemudian dengan sendirianya kemampuan untuk menulis berkembang semakin terstruktur sesuai dengan kadar pembacaan, pemahaman, lingkungan dan rasa keinginan.

Akan tetapi, berbeda dengan halnya menulis untuk mengungkapkan opini, essay maupun sejenis lainnya baik fiksi dan non fiksi.

Lantas bagaimana jika kita pada dewasa kini di hadapkan untuk beropini lewat tulisan namun kebingungan untuk itu, terutama pada kalangan mahasiswa?

Untuk menyangga pernyataan tersebut, disini bukan untuk memberikan tips dan trik, namun bersama-sama untuk saling belajar.
Jadi, menurut penulis yang mesti kita kuatkan dalam menciptakan karya tulis adalah:

Yang pertama adalah keinginan, keinginan untuk menciptakan karya, baik itu fiksi maupun non fiksi dan mengingat bahwa karya merupakan keabadian yang tidak termakan zaman. Oleh sebab itu tekat kuat keinginan untuk menulis terus termotivasi. dan,

Yang kedua adalah membaca, dengan membaca akan mampu mengasah kata dengan keterbiasaan kata-kata ataupun kalimat yang familiar dalam bacaan kemudian mampu menuangkan dalam tulisan. Sehingga, membaca dan menulis merupakan perpaduan yang sangat klop dan tentunya itu adalah kuncinya.

Kedua hal ini merupakan gerbang pertama menurut penulis sendiri. Selebihnya pembacalah yang mampu mengoreksi dan menambahkan perihal gagasan tersebut. Dan penulis yakin bahwa pembaca jauh lebih memahami keadaan, pengetahuan, dan ilmunya.

Dengan begitu, menulis itu mudah?

Iyah mudah untuk sekedar menulis, menulis sesuai keinginannya.

Cirebon, 2019
Sajak Siang Kembali Pulang

Sajak Siang Kembali Pulang

Sumber gambar: https://www.idntimes.com/



Siang Kembali Pulang

Sayang...
Mentari terpancar,
debu semakin bertaburan,
Adakah keinginan untuk meneduh?

Sayang...
Sini, samping pundakku ada kesejukkan,
Kesejukkan yang pernah engkau senderkan,
Atas pipimu yang mulai memilu.

Lengan kiriku mulai basah,
Bercak air mata usai tumpah,
Namun terasa baru saja ruah,
melembabkan pundak rumah.

Sayang...
Sepotong senja, katanya
Saling berebut, aksinya
Sepotong senja untuk pacarku kisahnya.

Sayang...
Balesan Alina, cintamu tolol,
Engkau tahu?
Aku merasakannya.

Sinilah..
Jikalau benar benar pulang,
Atas siang yang menjadikan gelisah bertaburan.


Cirebon, 2019

Narasi - Nikah Muda

Narasi - Nikah Muda


NIKAH MUDA

Sumber gambar: https://satriabajahitam.com/


Siapa berani?!
Kesiapan jasmani dan rohani,
Memadukan emosi mengasah diri.
Perihal jodoh merupakan cerminan diri. Saat diri ini marah, bertingkah semaunya, bahkan baik buruknya sikap terhadap sesama.

Aku tahu, mudaku dalam keberanian mengambil risiko adalah kegabahan emosional.
Bertindak seenaknya dan mungkin orang lain menganggap itu frontal.

Tapi, ini bukan saja keberanian jiwa, namun juga keberanian rohani yang ada di dalam hati.

Apalagi mengenai cinta yang aku kenal usia dini. Tentu, gejolak hasrat semakin tumbuh, layaknya ilalang didalam genangan. Semakin mekar, semakin hijau, dan semakin subur. Hingga menutupi genangannya.

Kita tahu, bahwa cinta merupakan anugerah pertama yang diberikan oleh tuhan, dan perasaan merupakan tanggapan hati yang mengutarakan.

Maka, apakah kita tega melebatkan genangan itu yang merupakan sumber tumbuhnya ilalang kita?.

Lantas, bagaimana dengan merawat ilalang tersebut?

Mestikah kita hentikan sumbernya?
Ataukah, kita sudahi dan bakar ilalangnya?

Se-siap apa kita untuk merawat ilalang?
Se-hebat apa kita mampu menjaga genangan?

Tentunya, bukanlah perkara yang mudah, namun juga bukanlah perkara yang sulit. Akan tetapi ini merupakan perkara kesiapan, kesanggupan, kemampuan dan pertanggung jawaban.

Nikah muda bukanlah soal trend masa kini, bukan pula soal mengikuti hasrat yang terus terbawa arus.

Namun nikah muda sejatinya tentang kesiapan dalam hal apapun.

Cinta bukanlah sekedar cinta, sayang bukanlah sekedar sayang. Apalagi ketika emosional belumlah matang menyikapi keadaan.

Lagi-lagi, ini adalah keutuhan pendewasaan.

Aku mohon,
Tolonglah, rasionalkan tentang kesejatian insan. Padukan dengan iman, perihal syariat kenikahan hingga syariat pertanggung jawaban.

Tegakkan, dan
Tegaplah.

Perjalanan panjang akan mengisahkan, terjalnya kehidupan maupun kemulusan cita kedua insan.

Beranikah kita memompa kehampaan dan kebosanan? Kelak, buah hatilah yang diingatkan.



Majalengka, 2019

Back To Top